KYIV - Situasi di Kyiv, Ukraina, kian mencekam. Serangan drone dan rudal Rusia yang terus membombardir kota itu disebut telah membuat ibu kota Ukraina tersebut 'terkoyak'. Wali Kota Kyiv, Vitaliy Klitschko, memperingatkan bahwa kota kini berada dalam 'situasi yang sangat dramatis'.
Pernyataan itu disampaikan Klitschko usai rapat darurat dewan pertahanan kota. Fokus serangan Rusia kini diarahkan ke infrastruktur kritis, logistik, perumahan, dan fasilitas penting lainnya. Salah satu target utamanya adalah Jembatan Pivdennyi (Selatan), salah satu jalur transportasi utama yang membentang di atas Sungai Dnipro.
Akibat serangan bertubi-tubi, jembatan tersebut kini ditutup total untuk lalu lintas metro dan mobil. Pembatasan juga diberlakukan di dua jembatan utama lainnya. Hal ini menyebabkan kemacetan parah dan kekacauan lalu lintas di seluruh kota, di mana sekitar tiga juta penduduknya sangat bergantung pada jaringan metro.
Tak hanya infrastruktur transportasi, serangan terbaru juga dilaporkan menghantam pusat data kota, menyebabkan gangguan internet. Dalam serangan semalam, satu orang dilaporkan tewas setelah sebuah gedung hunian bertingkat terkena serangan.
Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengklaim serangan ini adalah balasan atas serangan Ukraina ke fasilitas energi Rusia. Namun, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menegaskan bahwa Rusia memang sengaja ingin menghancurkan Ukraina, termasuk jembatan, pusat data, dan fasilitas umum lainnya, untuk memicu kepanikan dan memaksa warga mengungsi.
Analisis Dampak: Serangan terhadap jembatan strategis dan infrastruktur digital ini tidak hanya melumpuhkan mobilitas warga, tetapi juga berpotensi memutus rantai pasok bantuan kemanusiaan dan logistik militer. Gangguan internet dan pusat data menunjukkan eskalasi perang siber yang bertujuan mengisolasi Kyiv dari dunia luar, menciptakan tekanan psikologis yang mendalam bagi masyarakat sipil yang bertahan.