Mantan sersan Angkatan Darat AS, Alonzo Lunsford, yang selamat dari penembakan massal di Fort Hood pada 2009, menyatakan dukungannya terhadap hukuman mati bagi pelaku, Nidal Hasan. Namun, ia menentang rencana penyiaran langsung eksekusi tersebut karena khawatir akan dampak psikologis dan pesan yang salah bagi generasi muda.
Hasan, seorang psikiater militer, divonis mati setelah menewaskan 13 tentara tak bersenjata dalam insiden tragis yang mengguncang markas militer terbesar di AS itu. Lunsford, yang ditembak tujuh kali dalam peristiwa tersebut, menilai metode regu tembak lebih pantas dibandingkan suntik mati yang dianggapnya terlalu 'manusiawi' bagi seorang pembunuh massal.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengonfirmasi bahwa publik akan dapat menyaksikan proses eksekusi melalui siaran langsung. Jika terealisasi, ini akan menjadi eksekusi publik pertama di AS dalam hampir seabad terakhir, memicu perdebatan etika antara transparansi hukum dan potensi sensasionalisme kekerasan.