Jaksa Agung Utah, Derek Brown, resmi melayangkan tuduhan pidana terhadap platform prediksi populer Kalshi dan dua pendirinya, CEO Tarek Mansour serta COO Luana Lopes Lara. Langkah ini diambil setelah hakim federal memutuskan bahwa Utah berhak menegakkan hukum anti-judi ketat mereka terhadap pasar prediksi online.
Dalam keluhan pidana yang diajukan ke pengadilan Salt Lake City, Kalshi dituduh memfasilitasi taruhan olahraga—termasuk pertandingan NFL—yang dilakukan oleh petugas penegak hukum yang menyamar. Total ada 12 dakwaan terkait promosi judi online, satu dakwaan promosi judi umum, dan satu dakwaan pola aktivitas ilegal yang diarahkan ke para terdakwa.
Kasus ini memanas setelah administrasi Presiden Donald Trump melalui Commodity Futures Trading Commission (CFTC) menggugat Utah untuk memblokir penegakan hukum sipil terhadap platform tersebut. CFTC berargumen bahwa pasar prediksi seperti Kalshi berada di bawah yurisdiksi federal, bukan negara bagian. Utah sendiri dikenal memiliki larangan judi paling ketat di AS, dengan konstitusi negara bagian yang secara eksplisit melarang legislator melegalkan aktivitas tersebut.
Analisis Dampak: Bagi masyarakat umum, kasus ini menjadi preseden penting tentang batas antara 'pasar prediksi' dan 'judi online'. Jika Kalshi kalah, platform serupa bisa ikut ditutup di negara bagian lain, membatasi akses publik terhadap instrumen finansial berbasis prediksi. Sebaliknya, jika federal menang, celah hukum bisa terbuka lebar bagi operasi judi berkedok teknologi finansial. Masyarakat perlu waspada karena garis antara investasi dan taruhan semakin kabur, sementara regulator masih saling lempar tanggung jawab.