Awal bulan suci Ramadan bagi umat Muslim di seluruh dunia selalu dinanti dengan penuh antusias. Penentuan tanggal 1 Ramadan didasarkan pada penampakan hilal atau bulan sabit baru, sesuai dengan kalender Hijriah yang berbasis lunar. Di Mekkah, Arab Saudi, proses ini sangat sakral dan melibatkan pengamatan langsung.
Meskipun ada dua kemungkinan tanggal awal Ramadan, yakni 18 atau 19 Februari, pengamatan astronomi menunjukkan 19 Februari sebagai yang paling mungkin. Penentuan ini bukan tanpa alasan. Ada tiga faktor kunci yang sangat diperhatikan para ahli saat memantau hilal: Elongasi (jarak bulan dari matahari agar cahayanya tidak tertutup), Ketinggian (posisi bulan di atas cakrawala saat matahari terbenam), dan Waktu Tenggang (selisih waktu antara terbenamnya matahari dan bulan, agar langit cukup gelap).
Menurut Crescent Moon Watch, sebuah pelacak bulan ternama dari Inggris, hilal baru akan muncul pada 17 Februari pukul 3:01 sore waktu Mekkah. Namun, saat matahari terbenam pukul 6:19 malam, bulan hanya akan terlihat selama tiga menit. Dengan usia bulan baru yang masih sangat muda (sekitar 3 jam 18 menit), kemungkinan besar hilal tidak akan terlihat jelas di mana pun di dunia pada malam itu. Alhasil, bulan Syaban akan digenapkan menjadi 30 hari, dan 1 Ramadan kemungkinan besar jatuh pada 19 Februari.
Di Arab Saudi, kesaksian dari para pemantau hilal akan dikumpulkan dan diputuskan oleh Mahkamah Agung. Sementara itu, negara-negara Muslim lain memiliki caranya sendiri; ada yang mengikuti keputusan Mekkah, ada pula yang mengandalkan penampakan lokal atau perhitungan astronomis. Hal ini seringkali menyebabkan perbedaan awal Ramadan antarnegara. Bagi masyarakat, informasi ini sangat vital untuk mempersiapkan ibadah puasa dan menyusun jadwal kegiatan selama bulan yang penuh berkah ini. Penting untuk diketahui, di Indonesia sendiri, penentuan awal Ramadan juga melibatkan pengamatan hilal dan perhitungan hisab, yang kemudian disahkan melalui Sidang Isbat Kementerian Agama, memastikan keseragaman di tingkat nasional.