Washington, DC – Seorang operator teleprompter Gedung Putih berinisial Gabriel Perez kini menjadi sorotan setelah diduga memanfaatkan akses istimewanya untuk meraup keuntungan hingga hampir 100 ribu dolar AS (sekitar Rp1,5 miliar). Ia nekat memasang taruhan pada kata-kata yang akan diucapkan Presiden Donald Trump dalam pidato-pidato kenegaraan, termasuk Pidato Kenegaraan (State of the Union).
Platform prediksi pasar bernama Kalshi-lah yang pertama kali mencium kejanggalan. Analis mereka mendeteksi pola taruhan mencurigakan pada kontrak 'mention markets'—di mana pengguna bisa bertaruh apakah seorang tokoh akan menyebut kata-kata tertentu, seperti nama negara, istilah ekonomi, atau slogan kampanye. Kalshi langsung membekukan akun Perez dan melaporkan temuan ini ke Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi AS (CFTC).
Menurut laporan yang dikonfirmasi CBS News dan ABC News, Perez telah bekerja di Gedung Putih sejak 2016. Ia kini sedang cuti tanpa gaji dan dipastikan tidak akan kembali bekerja. Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan Presiden Trump sudah mengetahui kasus ini. Meski demikian, jaksa federal di Manhattan memutuskan untuk tidak membuka kasus pidana. Perez disebut-sebut kooperatif dalam penyelidikan.
Analisis Dampak: Kasus ini membuka celah keamanan baru di era digital. Jika terbukti, ini menunjukkan bagaimana orang dalam (insider) bisa memanfaatkan informasi yang belum publik untuk meraup untung di pasar prediksi. Ini bisa memicu pengawasan lebih ketat terhadap akses staf ke konten pidato presiden. Di sisi lain, Kalshi sebagai platform juga menunjukkan sistem deteksi dini yang efektif, menjadi contoh bagi regulator global tentang pentingnya pengawasan algoritmik di pasar keuangan alternatif.