Persiapan Amerika Serikat menyambut perhelatan akbar Piala Dunia FIFA 2026 terganjal masalah serius. Dana keamanan miliaran rupiah yang seharusnya sudah digelontorkan sejak lama, kini baru dicairkan, memicu kekhawatiran besar akan potensi serangan ekstremis dan gangguan keamanan lainnya di ajang sepak bola terbesar dunia tersebut.
Amerika Serikat, salah satu tuan rumah Piala Dunia FIFA 2026 bersama Kanada dan Meksiko, tengah menghadapi tantangan pelik dalam memastikan keamanan ajang bergengsi itu. Sejumlah laporan intelijen federal dan negara bagian, bahkan dari FIFA sendiri, mengisyaratkan adanya peningkatan risiko serangan ekstremis dan aksi kriminal, terutama di tengah molornya pencairan dana keamanan.
Dana sebesar 625 juta dolar AS (sekitar Rp10,1 triliun) yang seharusnya sudah dialokasikan sejak Juli 2025 sebagai bagian dari rancangan undang-undang belanja, baru kini secara resmi dicairkan oleh Federal Emergency Management Agency (FEMA). Keterlambatan ini, seperti diungkapkan beberapa pejabat dan penyelenggara kepada Reuters, telah menghambat persiapan keamanan di berbagai kota dan negara bagian yang akan menjadi tuan rumah.
Padahal, urgensi pengamanan sangat tinggi. Briefing intelijen yang belum terungkap sebelumnya, menyoroti potensi ancaman serius, mulai dari serangan terhadap infrastruktur transportasi hingga gejolak sipil yang mungkin dipicu oleh kebijakan imigrasi. Situasi semakin diperparah dengan kewaspadaan aparat hukum AS yang meningkat drastis pasca-konflik AS-Israel di Iran, mengingat adanya potensi ancaman balasan.
Mike Sena, Presiden National Fusion Center Association, sebuah jaringan pusat informasi intelijen di AS, menekankan bahwa proses distribusi dana dan pengadaan teknologi serta peralatan keamanan biasanya memakan waktu berbulan-bulan. Dengan kick-off Piala Dunia yang hanya tinggal setahun lebih sedikit lagi – dimulai di Meksiko pada 11 Juni 2026, lalu AS dan Kanada sehari setelahnya – waktu yang tersisa untuk persiapan dinilai "sangat mepet".
Laporan intelijen dari New Jersey pada Desember 2025, misalnya, menyoroti risiko serangan domestik, upaya teror yang berhasil digagalkan, dan masifnya propaganda ekstremis. Bahkan, ada laporan lain dari September 2025 yang menyebutkan ajakan online untuk menyerang infrastruktur kereta api selama Piala Dunia. Kompleksitas ini diperburuk oleh ketegangan geopolitik dan kekhawatiran akan pertemuan spontan terkait konflik antarnegara.
Pencairan dana yang terlambat ini menimbulkan pertanyaan besar tentang kesiapan AS dalam menghadapi ancaman multifaset di salah satu event olahraga terbesar dunia. Kota-kota dan negara bagian tuan rumah kini harus berpacu dengan waktu untuk mengisi kekosongan persiapan keamanan yang sempat tertunda akibat birokrasi, demi menjamin keselamatan jutaan penonton dan peserta dari seluruh penjuru dunia.