Maysera al-Kafarna tak bisa lagi memeluk bayinya, bahkan merasakan tendangan kecil di perutnya. Mimpi punya anak yang ia rajut bertahun-tahun lewat program bayi tabung, kini hancur lebur. Embrio beku miliknya dan suami, yang tersimpan di klinik kesuburan di Gaza, luluh lantak digempur serangan Israel. Kisah Maysera cuma satu dari ribuan pasangan di Gaza yang harus menelan pil pahit ini.
Pejabat medis di Gaza melaporkan, nyaris seluruh fasilitas reproduksi, atau tepatnya sembilan dari sepuluh klinik kesuburan di wilayah itu, rata dengan tanah akibat agresi Israel. Lebih pilu lagi, ribuan embrio dan sampel sperma yang disimpan di salah satu klinik, yakni Al-Basma IVF di Gaza City, ikut lenyap setelah dibombardir pada Desember 2023.
Situasi makin genting karena embrio yang masih tersimpan di fasilitas lain juga terancam. Meski ada jeda konflik, krisis bahan bakar dan minimnya pasokan nitrogen cair membuat suhu penyimpanan tak stabil, membahayakan kelangsungan hidup embrio-embrio tersebut. Ini adalah pukulan telak bagi harapan generasi masa depan di Gaza.
Para pembela hak asasi dan penyelidik PBB tak main-main, menyebut penghancuran sistem kesehatan reproduksi di Gaza ini sebagai bagian dari tindakan genosida. Mereka merujuk pada Konvensi PBB tahun 1948 yang mengklasifikasikan “tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran dalam suatu kelompok” sebagai salah satu bentuk genosida. Temuan Komisi Penyelidik PBB pada September 2024 bahkan menyimpulkan bahwa Israel sengaja menargetkan klinik kesuburan dan bangsal bersalin sebagai bagian dari upaya sistematis untuk menghancurkan rakyat Palestina.
Para penyelidik juga menyoroti fakta bahwa otoritas Israel tahu betul Al-Basma adalah klinik kesuburan, dan mereka sengaja menghancurkannya. Dampaknya sangat luas: sekitar 545.000 perempuan dan anak perempuan usia produktif di Gaza terdampak langsung. Angka kelahiran pun anjlok. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat penurunan drastis hingga 41 persen di paruh pertama 2025, dibandingkan dengan rata-rata tiga tahun sebelumnya. Bukan hanya serangan langsung, blokade Israel terhadap pasokan medis dan makanan juga memperparah kondisi bayi baru lahir dan memperburuk angka kelahiran secara keseluruhan. Ini bukan sekadar kerusakan fisik, tapi luka batin yang dalam bagi harapan generasi yang nyaris musnah.