LUBRA, NEPAL — Di sebuah lembah terpencil di barat laut Nepal, perubahan iklim mulai menggerus peradaban kuno penganut kepercayaan Bon, agama tertua di Tibet. Pohon kenari berusia ratusan tahun yang menjadi simbol berdirinya Desa Lubra, kini terancam oleh banjir bandang yang semakin sering terjadi.
Lama Tsultrim, pemuka agama Bon setempat, menceritakan bahwa desa mereka didirikan 20 generasi lalu oleh biksu agung Trashi Gyaltsen. Legenda mengatakan, Trashi menanam dua jarum pinus dan berjanji jika salah satunya tumbuh, ia akan mendirikan pemukiman di tempat itu. Dalam tujuh hari, sebatang pohon kenari tumbuh menggantikan jarum pinus tersebut.
Namun, keajaiban alam itu kini terancam. Tsultrim, yang berusia 76 tahun, terpaksa meninggalkan rumahnya dua tahun lalu karena banjir yang kian parah. Sungai yang dulu jauh dari permukiman, kini mengikis tepian dan mendekati pohon keramat tersebut. Beberapa rumah warga sudah kosong, tertimbun lumpur dan bebatuan.
"Saya meninggalkan rumah ini karena banjir," ujar Tsultrim sambil menunjuk bekas kediamannya yang kini terkubur sedimen.
Desa Lubra hanya dihuni 16 keluarga dan merupakan salah satu permukiman tertua penganut Bon di Nepal. Kepercayaan ini memiliki ritual dan pola sosial yang bertahan selama berabad-abad. Namun, krisis iklim kini menjadi ancaman nyata bagi kelangsungan budaya mereka.
Para ahli lingkungan mencatat bahwa pemanasan global mempercepat pencairan gletser di Himalaya, yang memicu aliran sungai tak menentu dan banjir bandang. Jika tidak ada tindakan mitigasi, bukan hanya ekosistem yang hancur, tetapi juga warisan spiritual yang telah hidup ribuan tahun.