Sebuah klaim mengejutkan datang dari Trita Parsi, Wakil Presiden Eksekutif Quincy Institute, yang menuding mantan Presiden AS Donald Trump sengaja memilih jalan eskalasi konflik ketimbang merangkul peluang damai. Menurut Parsi, Iran sebenarnya telah menawarkan konsesi besar terkait program nuklirnya selama masa kepemimpinan Trump. Ini berarti, Trump kala itu punya kesempatan emas untuk meraih kemenangan diplomatik yang kuat.
Namun, alih-alih memanfaatkan momentum tersebut, Trump justru memilih jalur konfrontasi. Kebijakan Trump ini dinilai Parsi lebih bertujuan untuk menundukkan Iran sepenuhnya, alih-alih memajukan kepentingan Amerika Serikat yang sebenarnya bisa dicapai lewat kesepakatan damai yang lebih konstruktif.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa pernyataan Parsi ini sejalan dengan kritik luas terhadap keputusan pemerintahan Trump yang menarik diri dari perjanjian nuklir Iran pada tahun 2018, yang dikenal sebagai JCPOA (Joint Comprehensive Plan of Action). Perjanjian yang diteken di era Presiden Obama tersebut sebenarnya telah berhasil membatasi program nuklir Iran. Langkah Trump saat itu dianggap justru memperkeruh suasana, menyebabkan ketegangan di Timur Tengah memanas kembali dan membuka kembali spekulasi mengenai ambisi nuklir Iran.
Dampak kebijakan ini tidak hanya dirasakan di ranah geopolitik, tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas harga minyak dunia dan keamanan regional yang lebih luas. Pada akhirnya, peningkatan ketegangan semacam ini memiliki konsekuensi signifikan bagi masyarakat global, mulai dari ketidakpastian ekonomi hingga risiko konflik yang lebih besar.