Jakarta – Raksasa teknologi Google kembali berurusan dengan hukum. Kali ini, Hachette Book Group, Cengage Learning, Elsevier, dan penulis Scott Turow secara resmi menggugat Google ke pengadilan federal di New York. Mereka menuduh Google mencuri karya mereka untuk melatih model kecerdasan buatan (AI) Gemini.
Dalam gugatan setebal hampir 60 halaman yang diajukan Jumat lalu, para penerbit dan penulis menyebut Google dengan sengaja mengabaikan sistem hak cipta. Mereka menuding Google pertama-tama menyalin buku melalui layanan Google Books, lalu mengunduh data dari situs bajakan dan menembus paywall untuk mengambil konten secara ilegal.
"Google tahu risiko hukumnya. Dokumen internal mereka sendiri menyebut penggunaan buku untuk AI itu 'sangat bermasalah' dan bisa berujung denda hingga 100 miliar dolar AS," bunyi gugatan tersebut. Yang lebih parah, Google disebut tidak pernah meminta izin atau memberi tahu penulis dan penerbit bahwa karya mereka dipakai untuk melatih Gemini.
Pengacara spesialis kekayaan intelektual, Kirk Sigmon, menjelaskan bahwa inti masalah ini adalah soal 'fair use'. "Argumen Google bakal lemah kalau ternyata mereka memang memperoleh buku secara ilegal. Ini kasus kompleks karena sulit membuktikan isi data pelatihan AI," ujarnya kepada Al Jazeera.
Gugatan ini bukan yang pertama. Sebelumnya, penulis seperti George RR Martin juga menggugat OpenAI. Langkah Hachette dan Cengage ini menunjukkan bahwa para kreator konten semakin gerah dengan praktik AI yang seenaknya mengeruk data tanpa bayar.