Negosiasi tidak langsung antara pejabat Iran dan Amerika Serikat di Jenewa pekan lalu kembali mandek. Meski Menteri Luar Negeri Oman Badr bin Hamad Al Busaidi yang menjadi mediator menyebut ada 'kemajuan signifikan', belum ada indikasi kuat bahwa kedua belah pihak mau mengalah demi mencegah potensi konflik. Pembicaraan teknis memang dijadwalkan bakal lanjut pekan depan di Wina, namun nasib perdamaian di Timur Tengah tetap di ujung tanduk.
Delegasi Iran yang dipimpin Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, menyerahkan proposal tertulis mereka kepada mediator Oman. Sementara itu, delegasi AS yang dipimpin utusan khusus Steve Witkoff dan menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner, juga menggelar pertemuan terpisah, termasuk membahas isu Ukraina, menunjukkan kompleksitas diplomasi yang bergulir. Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi juga hadir, mengingatkan peran penting badan pengawas nuklir PBB itu jika ada kesepakatan.
Kunci utamanya adalah dua hal: pengayaan uranium dan program rudal balistik Iran. Washington, sejalan dengan Israel, bersikeras tak akan menerima pengayaan uranium di tanah Iran, bahkan untuk tujuan sipil sekalipun – padahal ini disepakati dalam perjanjian nuklir 2015 yang ditinggalkan Trump pada 2018. Belum lagi program rudal balistik Iran yang dianggap mengancam pangkalan militer AS dan Israel. Iran? Mereka kukuh menolak membahas senjata konvensionalnya, meski Presiden Masoud Pezeshkian berkali-kali menegaskan Iran tak akan mengembangkan senjata nuklir.
Kini, dengan batas waktu yang pernah diisyaratkan Trump pekan lalu dan rapat dewan IAEA yang akan membahas Iran pada 6 Maret, tekanan makin tinggi. Media Barat bahkan mengisyaratkan kemungkinan sanksi lagi terhadap Iran. Situasi ini bukan cuma soal Iran dan AS, tapi juga berpotensi memicu ketidakstabilan di kawasan yang sudah rentan, mempengaruhi harga minyak global, dan menjadi krisis diplomatik yang bisa merembet ke mana-mana. Dunia menanti, apakah perundingan di Wina nanti bisa jadi jalan keluar, atau justru memperkeruh suasana?