Amerika Serikat tengah menghadapi krisis keamanan bandara yang makin parah. Gara-gara kebuntuan anggaran di Washington, ribuan petugas keamanan bandara (TSA) kini terpaksa bekerja tanpa gaji, memicu kekacauan di sejumlah bandara besar. Presiden Donald Trump pun ambil langkah ekstrem: mengerahkan agen penegak imigrasi (ICE) ke bandara-bandara utama mulai Senin.
Langkah ini diambil setelah berminggu-minggu antrean panjang mengular di pos pemeriksaan keamanan. Kekacauan ini dipicu oleh kegagalan Kongres menyepakati anggaran untuk Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) – instansi yang membawahi TSA. Sejak 14 Februari, puluhan ribu petugas TSA belum menerima gaji. Akibatnya, lebih dari 366 petugas mengundurkan diri dan tingkat absensi tak terjadwal melonjak dua kali lipat. Ini jelas bikin bandara kewalahan, apalagi melatih petugas baru butuh waktu 4-6 bulan.
Di Bandara Hartsfield-Jackson Atlanta dan JFK New York, antrean bahkan bisa berjam-jam. Beberapa petugas TSA terpaksa cari kerja sampingan, dan sejumlah bandara sampai menggalang bantuan makanan serta kartu hadiah untuk para staf yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.
Presiden Trump mengumumkan pengerahan agen ICE lewat media sosial, menunjuk Tom Homan, pejabat senior perbatasan, untuk memimpin upaya ini. Agen ICE, yang terlatih dalam penegakan hukum dan imigrasi, akan membantu tugas-tugas pendukung seperti memantau jalur keluar dan memeriksa identitas. Tujuannya agar petugas TSA bisa lebih fokus di lini pemeriksaan utama. Homan mengakui agen ICE tidak akan "melihat mesin X-ray," yang menandakan peran mereka terbatas.
Persoalan utama di balik kebuntuan ini adalah perselisihan sengit tentang kebijakan imigrasi. Demokrat menolak menyetujui paket pendanaan DHS penuh kecuali ada reformasi pada ICE. Tuntutan mereka makin keras setelah agen federal menembak mati dua warga AS saat razia imigrasi di Minneapolis Januari lalu. Senator Demokrat Dick Durbin menyebut partainya sudah sembilan kali mencoba meloloskan dana darurat terpisah untuk entitas seperti TSA dan FEMA, namun selalu diblokir Republik yang ngotot minta satu paket pendanaan komprehensif.
Menteri Transportasi Sean Duffy memperingatkan bahwa situasi ini "akan semakin memburuk" sebelum membaik. Krisis ini bukan sekadar soal antrean panjang, tapi juga mencerminkan polarisasi politik akut di AS yang berdampak langsung pada operasional dan keamanan publik. Ini berpotensi menurunkan standar keamanan penerbangan dan menciptakan ketidakpastian bagi ribuan pegawai federal yang bekerja untuk negara.