Kericho County, Kenya – Di tengah minimnya lapangan kerja formal di Kenya, generasi muda justru menemukan peluang emas di sektor pertanian. Chepkorir Rotich (33), seorang ibu dua anak dari desa Kiboito, menjadi contoh nyata bagaimana pertanian modern bisa menjadi ladang penghasilan yang menjanjikan.
Rotich memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk memasarkan hasil panennya. Dari susu sapi, telur ayam, hingga sayuran segar, semua ia jual melalui daring. Ia bahkan memiliki 50.000 pengikut dan kanal YouTube khusus untuk berbagi ilmu pertanian modern. "Saya dulu berpikir harus jadi pegawai kantoran. Tapi setelah gaji hanya Rp3 juta di Nairobi, saya sadar pertanian lebih menguntungkan," ujarnya kepada Al Jazeera.
Fakta mengejutkan datang dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) yang menyebut rata-rata usia petani Afrika adalah 60 tahun. Namun, Rotich membantah asumsi itu. Menurutnya, anggapan tersebut justru membuat anak muda enggan terjun ke agrikultur. "Saya mulai bertani di halaman rumah kontrakan. Malah pemilik kos jadi pelanggan tetap saya. Kuncinya passion dan konsistensi," tegasnya.
Kiringai Kamau, pakar ekonomi pertanian dari Universitas Nairobi, mendukung penuh fenomena ini. Ia mendorong anak muda untuk memanfaatkan teknologi, seperti kecerdasan buatan (AI) dan data ekosistem pertanian. "Mereka yang paling paham teknologi. Jadi, sudah saatnya pertanian menjadi pilihan karier utama, bukan alternatif," katanya.
Fenomena serupa terjadi di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 menunjukkan 53% petani Indonesia berusia di atas 45 tahun. Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK dan sarjana masih tinggi. Kisah Rotich membuktikan bahwa pertanian modern dengan sentuhan digital bisa menjadi solusi konkret mengatasi krisis lapangan kerja.