Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menuduh Rusia telah melanggar kesepakatan 'gencatan senjata energi' yang baru saja diumumkan secara sepihak oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dalam pidatonya melalui sambungan video di Warsaw Security Forum, Polandia, Zelenskyy menyatakan bahwa pelanggaran tersebut sudah terjadi dan ia berjanji akan merespons jika serangan terhadap infrastruktur energi terus berlanjut.
Zelenskyy mengaku terkejut dengan pengumuman gencatan senjata tersebut dan menuntut AS untuk benar-benar mengawasi serta memastikan Moskow mematuhi kesepakatan itu. Ia menegaskan bahwa gencatan senjata energi ini bisa menjadi langkah besar menuju perdamaian, asalkan ada pengawasan ketat dari Amerika. Jika Rusia tidak setuju, Ukraina siap merespons.
Pengumuman Trump pada hari Minggu sempat menimbulkan kebingungan. Sebelumnya, Trump juga sempat menyatakan pelonggaran sanksi sementara terhadap diesel Rusia, yang memicu kemarahan sekutu Eropa dan Kyiv karena dianggap hanya akan memperkuat posisi Presiden Rusia, Vladimir Putin. Selama ini, baik Ukraina maupun Rusia memang saling melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi, yang turut mendorong kenaikan harga energi global di tengah ketegangan dengan Iran.
Zelenskyy menegaskan bahwa gencatan senjata dan langkah pengurangan eskalasi harus benar-benar terjadi di lapangan, bukan hanya di media sosial. Sejumlah pemimpin Eropa, seperti Presiden Prancis Emmanuel Macron, juga menyatakan belum melihat adanya tanda-tanda gencatan senjata energi dari pihak Rusia dalam 48 jam terakhir. Perdana Menteri Polandia, Donald Tusk, menilai Rusia tidak tertarik pada perdamaian dan akan mendesak Uni Eropa untuk menambah sanksi.
Di Brussels, Uni Eropa resmi menambahkan hampir 1.600 sanksi baru terhadap kompleks industri militer Rusia, termasuk individu dan entitas yang terlibat dalam perang. Kepala kebijakan luar negeri UE, Kaja Kallas, menyebut ini sebagai perluasan daftar sanksi terbesar sejak perang dimulai, sebagai upaya menjaga tekanan terhadap Moskow.