PIALA DUNIA 2026 DI AMERIKA UTARA: KETEGANGAN DI BALIK PESTA BOLA - Berita Dunia
← Kembali

PIALA DUNIA 2026 DI AMERIKA UTARA: KETEGANGAN DI BALIK PESTA BOLA

Foto Berita

Jakarta, Media Online – Bayangkan Anda datang ke pesta makan malam, tapi tuan rumahnya sedang bertengkar hebat. Kurang lebih itulah gambaran Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, turnamen sepak bola terbesar di dunia ini akan dihelat di tiga negara sekaligus, melibatkan 16 kota tuan rumah. Namun, di balik euforia sepak bola, hubungan ketiga negara ini sedang memanas.

Ketegangan itu sempat tertutupi saat para pemimpin negara berfoto selfie bersama bos FIFA Gianni Infantino di Washington DC. Tapi, bekerja sama selama 39 hari penuh turnamen jelas bukan perkara mudah. Presiden AS Donald Trump dengan terang-terangan menunjukkan dominasi negaranya. Isu-isu sensitif seperti tarif dagang, imigrasi, dan narkoba kembali memanas sejak Trump menjabat, dan berpotensi meledak kapan saja.

Meksiko dan Kanada, yang merupakan mitra dagang utama AS, belum melupakan bagaimana mereka menjadi sasaran pertama kebijakan tarif Trump. Kanada, yang juga geram dengan gurauan Trump soal menjadikan negaranya sebagai 'negara bagian ke-51', membalas dengan aksi boikot. Provinsi-provinsi Kanada menarik minuman keras AS dari rak-rak toko, dan warga Kanada mengurangi perjalanan ke AS. Ini jelas mengganggu pihak Amerika.

Uniknya, ketegangan dengan AS juga berdampak pada hubungan Kanada dan Meksiko. Carlo Dade, Direktur Kebijakan Internasional Universitas Calgary, mengungkapkan bahwa Kanada sempat dituduh 'mengorbankan' Meksiko di hadapan Trump. Saat itu, pejabat Kanada dan AS berargumen bahwa Meksiko menjadi 'pintu belakang' investasi China ke Amerika Utara. “Itu benar-benar tidak sopan,” kata Dade. Akibatnya, Perdana Menteri Kanada Mark Carney kini sibuk memperbaiki hubungan dengan Meksiko sambil berusaha mengurangi ketergantungan dagang pada AS.

Belum lagi soal logistik. Pengawasan imigrasi AS yang diperketat, ditambah masalah keamanan terkait konflik Iran, bisa membuat perjalanan suporter antar negara menjadi rumit. Hal-hal sepele pun bisa berubah menjadi insiden diplomatik yang tidak terduga. “Menjadi tuan rumah bersama acara global bukanlah resep untuk hubungan yang mesra,” ujar Lindsay Sarah Krasnoff, pakar olahraga global dari New York University.

Analisis Dampak:

Bagi jutaan suporter sepak bola Indonesia yang berencana nonton langsung, ini berarti harus ekstra hati-hati. Perbedaan kebijakan visa antar negara, potensi pemeriksaan imigrasi yang super ketat, hingga perubahan harga tiket dan akomodasi akibat ketidakpastian politik, bisa menjadi momok. Di sisi lain, Piala Dunia 2026 justru bisa menjadi 'jembatan' untuk meredakan ketegangan. Jika sukses, turnamen ini bisa mempererat hubungan ekonomi dan politik ketiga negara, membuktikan bahwa olahraga mampu menyatukan rivalitas yang paling rumit sekalipun.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook