Luiz Inacio Lula da Silva resmi memenangkan pemilihan presiden Brasil 2026 dengan perolehan 51,79 persen suara, mengalahkan Senator Flavio Bolsonaro yang meraih 48,21 persen. Kemenangan ini menjadi comeback bersejarah bagi politisi kiri berusia 80 tahun tersebut, yang sebelumnya tertinggal sekitar 2,2 juta suara di putaran pertama pada 4 Oktober lalu.
Lula menjadi kandidat pertama sejak Brasil kembali ke demokrasi pada 1985 yang berhasil membalikkan keadaan dari posisi kedua di putaran pertama menjadi juara di putaran kedua. Partisipasi pemilih meningkat menjadi 80,8 persen, naik hampir 2 persen dari putaran sebelumnya.
Namun, Flavio Bolsonaro menolak mengakui kekalahan dan meminta hasil pemilu dianulir, meski Mahkamah Agung Brasil sempat memperpanjang waktu pemungutan suara dua jam akibat gangguan transportasi dan cuaca buruk. Langkah ini mengingatkan publik pada ayahnya, Jair Bolsonaro, yang menolak kekalahan pada 2022 dan kini mendekam di tahanan rumah dengan hukuman 27 tahun penjara karena terbukti merencanakan kudeta.
Analis menilai langkah hukum Flavio lemah karena kubu kampanyenya sendiri yang meminta perpanjangan waktu pemungutan suara. Meski begitu, para pengamat memperkirakan manuver ini tetap akan memperkuat basis politik gerakan sayap kanan Bolsonarismo di jalanan.
Kemenangan Lula didorong oleh kampanye akar rumput yang lebih hidup, mobilisasi pemilih muda, dan pergeseran strategi ke kampanye digital. Kaum muda Brasil secara spontan mengorganisir diri lewat media sosial setelah kekalahan di putaran pertama, membentuk gerakan yang kemudian dikenal sebagai 'Lengan Lula'.
Bagi masyarakat Brasil, hasil ini berarti periode baru pemerintahan kiri yang harus menghadapi Kongres konservatif dan tantangan hukum dari kubu lawan. Sementara di tingkat regional, kekalahan Bolsonaro menjadi pukulan bagi gelombang politik sayap kanan di Amerika Latin yang selama ini mendapat dukungan dari Presiden AS Donald Trump.