Prancis diguncang skandal setelah seorang petugas pemadam kebakaran sukarela berusia 18 tahun resmi ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan memicu kebakaran hutan di kawasan Fontainebleau, selatan Paris. Peristiwa ini menghanguskan 10 persen dari total hutan bersejarah tersebut, atau setara dengan lebih dari 2.000 hektare lahan.
Kebakaran yang terjadi sejak Minggu lalu itu memaksa evakuasi sekitar 1.000 warga dan sempat melumpuhkan sebagian jalur tol utama utara-selatan Prancis. Meski api sudah terkendali, proses pemadaman total masih berlangsung hingga kini.
Jaksa Diane Ngomsik mengungkapkan bahwa tersangka awalnya mengaku menyulut api menggunakan korek api dan bensin pada tumpukan ranting, namun belakangan mencabut pengakuannya. Media lokal BFMTV melaporkan bahwa satu pemuda lain juga ikut diperiksa dalam status yang sama.
Presiden Emmanuel Macron yang mengunjungi lokasi kebakaran pada Kamis (20/7) menegaskan tidak akan memberi toleransi bagi para pembakar. Ia juga menyebut bahwa Prancis belum pernah mengalami kebakaran hutan sebanyak ini sejak Perang Dunia II. Hingga awal tahun ini, Prancis mencatat hampir 11.000 titik api.
Fontainebleau bukan sekadar hutan biasa. Kawasan ini merupakan rumah bagi Istana dan Taman Fontainebleau yang telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1981. Kebakaran ini menjadi pukulan telak bagi upaya pelestarian warisan budaya dan alam Eropa.
Analisis: Kejadian ini menyoroti ancaman ganda yang dihadapi Eropa: ulah manusia dan perubahan iklim. Eropa disebut sebagai benua dengan pemanasan tercepat di dunia, dua kali lipat dari rata-rata global. Gelombang panas ekstrem yang melanda kawasan ini memperparah risiko kebakaran, seperti yang terjadi di Spanyol (13 tewas) dan Skotlandia. Kasus petugas pemadam yang justru menjadi tersangka menunjukkan bahwa faktor kelalaian atau kesengajaan individu juga tak bisa diabaikan dalam bencana ini.