LOS ANGELES, 5 Juni 2025 – Tim nasional sepak bola Iran akhirnya mendapatkan visa untuk masuk ke Amerika Serikat, hanya sepuluh hari sebelum laga perdana mereka di Piala Dunia 2025 melawan Selandia Baru di Los Angeles. Seorang pejabat Gedung Putih mengonfirmasi kabar ini setelah sebelumnya sempat terjadi ketegangan diplomatik antara kedua negara.
Duta Besar Iran untuk Meksiko, Abolfazl Pasandideh, sebelumnya mengeluhkan belum keluarnya visa tersebut. Namun, dalam semalam, proses administrasi rampung. Duta Besar AS untuk Turki, Tom Barrack, mengumumkan hal ini melalui media sosial X, memuji kerja keras Kedutaan Besar AS di Ankara dalam memproses visa para pemain Iran.
Meski para pemain sudah mendapatkan visa, staf teknis dan administrasi tim Iran belum semuanya kebagian. Kantor berita semi-resmi Fars melaporkan, Kedutaan Besar AS masih menahan visa untuk sejumlah anggota tim pendukung. Hal ini menambah daftar panjang drama politik yang mewarnai partisipasi Iran di Piala Dunia tahun ini.
Ketegangan antara AS dan Iran yang memanas karena konflik di Timur Tengah ikut merembet ke ajang olahraga. Ini menjadi kali pertama dalam sejarah Piala Dunia sejak 1930, tuan rumah menerima tim dari negara yang sedang berperang dengannya. Akibat masalah visa, Iran bahkan memindahkan markas latihan dari Arizona ke Tijuana, Meksiko, untuk meminimalkan waktu mereka di wilayah AS.
Menurut laporan dari Al Jazeera, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya menyatakan tidak akan mengizinkan individu yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) masuk ke dalam delegasi tim. Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, yang merupakan mantan komandan Garda Revolusi, bahkan sudah ditolak visa saat undian Piala Dunia di Washington tahun lalu.
Analisis Dampak: Drama visa ini menunjukkan bahwa olahraga tidak bisa lepas dari politik. Bagi masyarakat Iran, kelulusan visa ini adalah secercah harapan di tengah isolasi internasional. Namun, penahanan visa untuk staf pendukung menandakan bahwa AS tetap menerapkan tekanan maksimal. Bagi dunia, ini menjadi preseden buruk karena Piala Dunia seharusnya menjadi ajang pemersatu, bukan medan perang diplomasi.