Pasukan pemerintah Suriah berhasil merebut kota strategis Tabqa di Suriah timur, Minggu lalu. Perebutan ini menandai intensifikasi serangan terhadap Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung Amerika Serikat, di wilayah timur Sungai Eufrat.
Tabqa bukan kota biasa. Lokasinya di Provinsi Raqqa ini sangat penting karena di dekatnya berdiri bendungan vital yang mengatur aliran air ke selatan, menuju daerah-daerah yang dikuasai SDF. Penguasaan bendungan berarti kendali atas sumber daya air krusial di kawasan tersebut.
Operasi militer yang cepat ini terjadi setelah serangkaian bentrokan mematikan awal bulan ini di kota Aleppo, yang menewaskan 23 orang dan menyebabkan puluhan ribu warga mengungsi. Pemerintah Suriah mengambil alih tiga lingkungan di Aleppo dari SDF dalam bentrokan tersebut.
Hubungan antara pemerintah Suriah dan SDF memang rumit. Meskipun AS telah lama mendukung SDF sebagai sekutu utama dalam memerangi kelompok ISIS, kedua belah pihak seringkali saling tuduh melanggar perjanjian. Salah satunya adalah kesepakatan Maret lalu yang bertujuan mengintegrasikan kembali Suriah timur laut dan pasukan pimpinan Kurdi ke dalam struktur negara Suriah.
Setelah bentrokan mereda, pemimpin SDF, Mazloum Abdi, menyatakan pasukannya akan menarik diri dari wilayah timur Eufrat. Keputusan ini menyusul pengumuman pejabat Suriah al-Sharaa mengenai langkah-langkah untuk memperkuat hak-hak etnis Kurdi di Suriah.
Namun, ketegangan masih tinggi. Pemerintah Suriah menuduh SDF mengeksekusi tahanan di Tabqa sebelum mundur. Tuduhan ini dibantah keras oleh SDF, yang balik menuduh pasukan pemerintah menembaki fasilitas penahanan mereka saat proses pemindahan tahanan.
Hingga kini, belum jelas seberapa jauh militer Suriah berniat maju ke jantung wilayah Kurdi. Namun, pengamat perang Syrian Observatory for Human Rights yang berbasis di Inggris melaporkan bahwa pasukan pemerintah kini telah menguasai lebih dari selusin desa dan kota di pedesaan Deir Az Zor timur menyusul mundurnya SDF.