Gelombang kekerasan pemukim ilegal Israel di Tepi Barat kembali memantik kemarahan internasional. Kali ini, sasarannya bukan hanya warga Palestina yang sedang memanen zaitun, tetapi juga sejumlah diplomat asing dan jurnalis foto. Insiden terbaru terjadi pada Jumat dan Sabtu, di mana rombongan diplomat dari Belgia, Prancis, Polandia, hingga perwakilan Gereja Katolik menjadi korban penyerangan saat memantau situasi.
Uni Eropa melalui pernyataan resminya mengecam keras aksi tersebut. Brussel menuntut pertanggungjawaban penuh dari Israel serta meminta agar otoritas setempat menghentikan perluasan permukiman ilegal. Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, bahkan meminta pemerintah Israel segera menangkap para pelaku yang menyerang Wali Kota Aulnoye-Aymeries, Bernard Baudoux. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Belgia, Maxime Prevot, membenarkan bahwa konsul jenderal negaranya untuk Palestina turut menjadi korban dalam insiden berdarah tersebut.
Tekanan juga datang dari Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan pemerintahan Trump 'sangat terganggu' dengan gambar penyerangan terhadap jurnalis foto lepas asal AS, Heidi Levine, yang bekerja untuk The Washington Post. Rubio mendesak Israel untuk menindak tegas kekerasan ini dan menegaskan bahwa Washington tidak ingin melihat 'gesekan' atau 'krisis' di Tepi Barat.
Namun, kecaman demi kecaman dinilai tak akan cukup. Pengamat politik Palestina, Ahmed Najar, menyoroti sikap negara-negara Barat yang dinilainya munafik. Menurutnya, negara-negara Barat terus memasok senjata dan dana serta melindungi Israel secara diplomatik, sementara aksi pemukim dianggap sebagai tindakan oknum ekstremis semata. Kritik juga muncul terkait lonjakan kekerasan pemukim selama musim panen zaitun tahun ini yang telah melampaui total kekerasan tahun lalu, sementara para pelaku sering kali luput dari hukuman akibat impunitas yang diberikan otoritas Israel.