TUNIS - Pengadilan Tunisia menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup plus 30 tahun kepada Rached Ghannouchi, pemimpin partai oposisi Ennahdha sekaligus mantan ketua parlemen. Vonis ini bagian dari kasus yang disebut 'aparatur rahasia' yang menyeret puluhan terdakwa lainnya.
Pengadilan Tingkat Pertama Tunis, Selasa (28/5/2024), memutuskan Ghannouchi dan 11 terdakwa lain, termasuk mantan penasihat perdana menteri, bersalah karena 'membentuk aliansi teroris'. Mereka juga terbukti 'menempatkan keahlian untuk kepentingan aliansi teroris dan orang-orang yang terkait kejahatan teror', demikian laporan kantor berita resmi Tunisia, TAP.
Total, 13 terdakwa lainnya dihukum penjara 10 hingga 48 tahun. Semua terdakwa juga diperintahkan menjalani pengawasan administratif selama lima tahun setelah bebas nanti.
Kasus ini bermula dari laporan jaksa dan pengacara keluarga dua politisi sekuler yang dibunuh pada 2013, Chokri Belaid dan Mohamed Brahmi. Mereka menuding Ennahdha memiliki 'aparatur rahasia' yang terlibat dalam pembunuhan, spionase, dan menyusup ke lembaga negara. Ennahdha membantah dan menyebut tuduhan itu bermotif politik.
Ini bukan vonis pertama buat Ghannouchi. April lalu, ia juga dihukum 20 tahun penjara dalam kasus 'acara Ramadan' karena dianggap menghasut kekacauan. Sebelumnya, ia ditahan di rumahnya saat acara buka puasa bersama pada 2023.
Analisis Dampak: Vonis ini menandai babak baru represi politik di Tunisia, negara yang sempat dianggap sebagai satu-satunya kisah sukses Arab Spring. Pengamat internasional menilai pengadilan digunakan untuk membungkam oposisi, sementara pemerintah berdalih semua proses hukum murni yudisial. Kondisi kesehatan Ghannouchi yang memburuk di penjara memicu desakan pembebasan dari kubu oposisi dan kelompok HAM.