PAHLAWAN OREGON: MAAF, SAYA TAK BISA SELAMATKAN SEMUA - Berita Dunia
← Kembali

PAHLAWAN OREGON: MAAF, SAYA TAK BISA SELAMATKAN SEMUA

Foto Berita

Jakarta, CNN Indonesia — Sebuah tragedi penembakan di Silver Rail Elementary School, Oregon, Amerika Serikat, meninggalkan duka mendalam. Namun di balik peristiwa kelam itu, muncul kisah heroik dari seorang ayah, Kaylub Giamanco (36), yang berhasil menghentikan aksi brutal seorang penembak berusia 16 tahun.

Dalam wawancara emosional dengan Oregon Public Broadcasting (OPB), Giamanco mengungkapkan penyesalan terbesarnya. Meski berhasil menghentikan pelaku, ia tak kuasa menahan tangis karena tidak bisa menyelamatkan seluruh korban. "Saya ingin meminta maaf karena tidak bisa menyelamatkan bayi-bayi mereka," ujarnya merujuk pada tiga siswa laki-laki berusia 5, 8, dan 11 tahun yang tewas, serta seorang guru.

Insiden bermula saat Giamanco, seorang tukang kayu, memutuskan pulang ke rumah untuk makan siang bersama istri. Keputusan spontan itu membawanya melewati sekolah tepat saat aksi penembakan dimulai. Melihat pelaku membawa senjata panjang dan melepaskan tembakan ke arah truk pikap, Giamanco awalnya mengira itu hanya lelucon. Namun, naluri ayahnya langsung mengambil alih saat melihat pelaku menembaki pintu kaca sekolah yang terkunci.

Tanpa ragu, ia mengambil pistol dari kendaraannya, menelepon layanan darurat, dan meminta istrinya segera ke sekolah. "Saya bilang, 'Maaf, saya harus masuk. Orang-orang akan mati'," kenangnya. Giamanco merangkak melewati jendela yang hancur dan melihat seorang guru sedang bergulat dengan pelaku. Ia kemudian melepaskan tembakan yang mengakhiri nyawa penyerang.

Meski pihak kepolisian dan publik menjulukinya pahlawan, Giamanco menolak label tersebut. Ia justru menyoroti keberanian sang guru yang telah mengorbankan diri untuk menghalangi pelaku. "Saya ingin memeluknya karena dia pahlawan sejati," katanya.

Analisis Dampak: Peristiwa ini kembali memicu perdebatan panas mengenai regulasi kepemilikan senjata api di AS. Di satu sisi, kehadiran warga sipil bersenjata seperti Giamanco dianggap sebagai faktor penentu yang mencegah jatuhnya korban lebih banyak. Namun, insiden ini juga menyoroti rentannya keamanan sekolah dan akses mudah bagi remaja untuk mendapatkan senjata mematikan. Kasus ini menjadi cermin dilema keamanan publik di AS: antara kebutuhan akan perlindungan diri versus ketatnya pengawasan senjata.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook