Perdana Menteri Prancis menuding kelompok sayap kiri garis keras merencanakan sebagian kekerasan yang terjadi dalam demonstrasi besar di Paris pada Sabtu (17/10) lalu. Kerusuhan ini meninggalkan jejak berupa jendela toko pecah, grafiti menghina polisi, dan aksi penjarahan massal di lebih dari 3.000 toko dan bisnis. Seorang warga, Elisabeth, menyampaikan kekecewaannya di tengah jalan yang dipenuhi pecahan kaca, seraya menegaskan bahwa aksi anarkis ini bukanlah wajah mayoritas Prancis.
Meski banyak penjarahan terlihat spontan, pola kekerasan justru dinilai terencana. Simbol 'A' dalam lingkaran khas kelompok anarkis sayap kiri ditemukan di banyak bangunan. Video yang beredar menunjukkan sekelompok pria muda berpakaian hitam dan menutupi wajah menyerang mobil polisi dengan palu besar. Laporan intelijen Prancis yang bocor ke media Le Figaro mencurigai gerakan sayap kiri La France Insoumise (LFI) memanfaatkan kekerasan sebagai strategi elektoral menjelang pemilu 2027.
Presiden Macron menegaskan bahwa semua pelaku kekerasan dan pencurian akan diadili. Platform jual beli online pun berjanji bekerja sama dengan otoritas untuk melacak penjarah yang nekat menjual barang curian secara daring. Ketua Majelis Nasional, Yaƫl Braun-Pivet, mengusulkan penyelidikan parlemen untuk mengungkap siapa dalang di balik kerusuhan ini. Dampaknya bagi masyarakat, kepercayaan publik terhadap keamanan dan proses demokrasi di Prancis tengah diuji, terutama karena kerusuhan ini terjadi di tengah gelombang protes mahasiswa yang sudah berlangsung berminggu-minggu.