Warga negara Amerika Serikat, Dennis Coyle, akhirnya menghirup udara bebas setelah lebih dari setahun ditahan di Afghanistan. Pembebasan peneliti dan ahli bahasa ini menjadi sorotan, menyusul permohonan tulus dari keluarganya dan upaya mediasi diplomatik yang difasilitasi oleh Uni Emirat Arab (UEA) serta Qatar.
Kementerian Luar Negeri Afghanistan pada Selasa (waktu setempat) mengonfirmasi bahwa Mahkamah Agung Emirat Islam telah menganggap masa penahanan Coyle sudah cukup. Mereka memutuskan pembebasannya sebagai 'isyarat niat baik' dan berdasarkan alasan kemanusiaan, bertepatan dengan momen penting menjelang perayaan Idul Fitri. Proses pembebasan ini juga melibatkan pertemuan penting antara Menteri Luar Negeri Afghanistan Amir Khan Muttaqi, mantan Utusan Khusus AS untuk Afghanistan Zalmay Khalilzad, Duta Besar UEA untuk Kabul Saif Mohammed al-Ketbi, dan perwakilan keluarga Coyle. UEA secara khusus disebutkan sebagai fasilitator utama.
Di sisi lain, Sekretaris Negara AS Marco Rubio menyambut baik kabar pembebasan Coyle. Ia menyebutnya sebagai 'langkah positif untuk mengakhiri praktik diplomasi sandera', seraya mengucapkan terima kasih kepada UEA dan Qatar atas dukungan mereka. Namun, pernyataan Rubio ini juga menyimpan konteks yang lebih dalam. Awal bulan ini, ia sendiri telah menetapkan pemerintahan Taliban di Afghanistan sebagai 'sponsor penahanan yang salah', dengan peringatan bahwa negara tersebut tidak aman bagi warga negara AS. Rubio bahkan mendesak Taliban untuk segera membebaskan Dennis Coyle, Mahmoud Habibi, dan semua warga Amerika yang ditahan secara tidak adil.
Pihak berwenang Afghanistan menyatakan Coyle ditahan karena 'pelanggaran hukum yang berlaku', tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Mereka menegaskan tidak pernah menahan warga negara asing untuk tujuan politik, melainkan semata-mata karena pelanggaran hukum negara. Pernyataan ini jelas kontras dengan tudingan Rubio yang mengindikasikan adanya 'diplomasi sandera'.
Kasus ini bukan yang pertama. Tahun lalu, lima warga negara AS lainnya juga dibebaskan oleh Taliban dengan dalih 'isyarat niat baik'. Menurut Foley Foundation, sebuah kelompok advokasi yang memperjuangkan pembebasan warga AS di luar negeri, Coyle ditahan sejak Januari tahun lalu saat bekerja secara legal mendukung komunitas bahasa Afghanistan. Ia disebut ditahan dalam kondisi hampir isolasi, bahkan tanpa akses memadai terhadap perawatan medis.
Pembebasan Dennis Coyle, meskipun disambut lega, tetap menyisakan ketegangan diplomatik antara AS dan Taliban. Langkah ini bisa diinterpretasikan sebagai sinyal positif untuk meredakan ketegangan dan membuka ruang dialog lebih lanjut, sekaligus memberikan harapan bagi warga AS lain yang masih ditahan. Namun, sikap waspada AS yang masih menganggap Afghanistan berbahaya menunjukkan bahwa normalisasi hubungan masih jauh dari terwujud, dan isu 'diplomasi sandera' tetap menjadi batu sandungan utama dalam hubungan kedua belah pihak.