EL-OBEID, SUDAN — Serangan drone kembali memicu duka di Sudan. Sebuah prosesi pemakaman di pemakaman kota El-Obeid menjadi sasaran, menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai puluhan lainnya. Dua kelompok hak asasi, Jaringan Dokter Sudan dan Pengacara Darurat, mengonfirmasi insiden ini dan menuding Pasukan Dukungan Cepat (RSF) sebagai dalangnya.
Menurut Pengacara Darurat, serangan itu merupakan bagian dari rentetan serangan drone yang dimulai Rabu malam lalu. Total korban jiwa dalam serangan udara tersebut telah mencapai 23 orang. Hingga kini, RSF belum memberikan pernyataan resmi.
El-Obeid, yang saat ini berada di bawah kendali tentara, merupakan medan pertempuran kunci dalam perang saudara Sudan yang telah berlangsung selama tiga tahun. Kota ini terletak di wilayah Kordofan yang kaya minyak, menjadikannya rebutan strategis antara RSF dan tentara. Analis menilai, siapa pun yang menguasai Kordofan, secara efektif mengendalikan pasokan minyak dan sebagian besar wilayah Sudan.
Selain menyerang pemakaman, drone juga menghantam rumah-rumah warga di lingkungan pemukiman, kawasan bandara, dan area sekitar pangkalan militer. “Sungguh tragis. Atap-atap rumah runtuh menimpa penghuninya. Saat melihat beberapa rumah, rasanya tidak mungkin ada yang selamat,” ujar seorang warga kepada kantor berita AFP.
Perang saudara Sudan telah menciptakan krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Lebih dari 11 juta orang terpaksa mengungsi, dan 28 juta lainnya menghadapi kelaparan akut. Meski angka resmi korban jiwa tidak diketahui, diperkirakan setidaknya 50.000 orang tewas sejak konflik dimulai.