Jakarta - Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama angkat bicara keras menanggapi penyelidikan kriminal federal yang menyasar anggota Kongres Ilhan Omar. Obama menilai penyelidikan ini sarat muatan politik dan terjadi semata-mata karena Omar vokal mengkritik pemerintahan Donald Trump.
Dalam cuitannya di platform X, Obama menyebut tindakan ini sebagai hal yang 'sangat memprihatinkan'. Ia menyoroti bagaimana aparat federal melakukan penggeledahan di kediaman Omar di Washington DC pekan lalu, yang diduga terkait status kewarganegaraannya. Omar, yang lahir di Somalia dan tiba di AS pada 1995, dituding memberikan keterangan palsu soal usianya saat mengajukan naturalisasi.
Obama menegaskan bahwa ayah Omar baru menjadi warga negara naturalisasi saat Omar berusia 17 tahun. Berdasarkan hukum imigrasi AS, anak di bawah 18 tahun yang tinggal bersama orang tua yang telah dinaturalisasi otomatis mendapatkan status kewarganegaraan. Namun, pemerintah saat ini tampaknya berupaya membatalkan status tersebut dengan dalih Omar sebenarnya sudah berusia 18 tahun saat proses itu terjadi.
Gedung Putih membantah tudingan politisasi ini. Juru bicara Lauren Bis menyatakan bahwa Departemen Kehakiman hanya fokus pada penegakan hukum dan keamanan nasional, seraya menuding pemerintahan sebelumnya (Biden) yang justru mempolitisasi institusi hukum.
Analisis Dampak: Kasus ini menjadi preseden berbahaya bagi demokrasi AS. Jika upaya 'denaturalisasi' ini berhasil, maka hak politik warga negara naturalisasi bisa jadi taruhan hanya karena perbedaan pandangan politik. Ini memicu kekhawatiran luas di kalangan imigran dan kelompok minoritas mengenai penyalahgunaan kekuasaan eksekutif untuk membungkam oposisi.