Israel kini berada dalam situasi siaga penuh menyusul rentetan serangan bersama AS ke Iran. Namun, di tengah ketegangan memanas dan balasan rudal dari Teheran, gambaran "bisnis seperti biasa" justru muncul dari dalam negeri Israel, menimbulkan pertanyaan besar tentang bagaimana negara itu menghadapi ancaman yang terus membayangi.
Situasi ini kontras dengan eskalasi sebelumnya, di mana kepanikan dan aksi borong kebutuhan sempat melanda warga. Kini, beberapa pengamat justru menyebut adanya "triumfalism" politik, merasa puas telah menyerang musuh. Meski demikian, kembali ke tempat penampungan sudah menjadi bagian dari rutinitas harian bagi banyak warga Israel, sebuah tanda bahwa konflik bukanlah hal baru yang mereka hadapi.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, melalui unggahan di X, menggambarkan serangan tersebut sebagai upaya "menghilangkan ancaman eksistensial" dari "rezim teror" Iran, bahkan menyerukan rakyat Iran untuk bangkit melawan pemimpin mereka. Di sisi lain, Iran telah membalas dengan gelombang rudal dan drone, menargetkan Israel dan aset AS di kawasan itu, dilaporkan melukai setidaknya satu orang di Israel utara.
Para elit politik Israel menyambut hangat serangan tersebut. Pemimpin oposisi Yair Lapid menegaskan persatuan Israel dan dukungan penuh AS, bahkan menggemakan seruan Netanyahu untuk perubahan rezim dari dalam Iran. Namun, di tengah narasi kesiapan dan ketenangan ini, suara kritis juga muncul. Anggota parlemen Palestina, Aida Touma-Suleiman, menyoroti bahwa klaim "terlatih dan siap" hanyalah cerminan dari pengalaman perang yang tiada henti, yang mungkin tidak dialami negara lain mana pun. Kondisi ini mencerminkan dinamika kompleks di mana ketahanan masyarakat bercampur dengan desensitisasi terhadap konflik, terutama setelah insiden di Gaza yang oleh beberapa pihak dinilai telah "mendevaluasi nilai kehidupan manusia."