SERANGAN RUSIA TEWASKAN 38 WARGA SIPIL UKRAINA - Berita Dunia
← Kembali

SERANGAN RUSIA TEWASKAN 38 WARGA SIPIL UKRAINA

Foto Berita

Gelombang serangan udara Rusia dalam 24 jam terakhir kembali menimbulkan korban jiwa di Ukraina. Sedikitnya 38 warga sipil tewas dan puluhan lainnya luka-luka akibat rangkaian serangan yang menyasar sejumlah lokasi, termasuk pusat bantuan kemanusiaan, panti jompo, dan rumah sakit.

Tragedi paling mematikan terjadi di Desa Komyshuvakha, wilayah Zaporizhzhia selatan. Sedikitnya 33 orang tewas dalam serangan bom luncur (glide bomb) pada Senin malam. Presiden Volodymyr Zelensky menyebut angka korban masih bisa bertambah karena lebih dari 50 orang dilaporkan terjebak di bawah reruntuhan bangunan sekolah yang digunakan sebagai pusat distribusi bantuan kemanusiaan.

"Ini salah satu pembunuhan massal terbesar yang dilakukan Rusia selama perang ini," tegas Zelensky, seperti dikutip BBC. Otoritas setempat melaporkan sembilan bom udara berbobot 3.000 kg menghantam lokasi saat warga sedang berkumpul menerima bantuan. Ketika serangan terjadi, warga berusaha berlindung di ruang bawah tanah, namun atap bangunan runtuh dan menimbun banyak orang.

Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim serangan tersebut menyasar unit militer Ukraina dan menewaskan 25 tentara. Namun, BBC News Russian tidak menemukan bukti kredibel bahwa lokasi itu digunakan militer, dan menegaskan tidak ada fasilitas militer atau industri besar di Desa Komyshuvakha.

Serangan juga menghantam panti jompo di Kota Dnipro dan sebuah rumah sakit di Kota Kharkiv. Di Kharkiv, Zelensky melaporkan 73 orang terluka, mayoritas pasien lanjut usia. Sementara di Dnipro, sekitar 50 pasien penyakit terminal terpaksa dievakuasi setelah panti jompo mereka hancur, dengan foto-foto yang diunggah Wali Kota Boris Filatov menunjukkan pasien lansia terbaring di ranjang dengan jendela pecah dan puing berserakan.

Misi pemantauan hak asasi manusia PBB menilai distribusi bantuan di sekolah tersebut telah dipublikasikan secara luas, sehingga serangan ini "tampak melanggar prinsip paling mendasar hukum humaniter internasional." Serangan ini terjadi setelah PBB bulan lalu menyebut korban sipil di Ukraina berada pada "tingkat rekor."


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook