Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) kini telah menembus angka 10.000 kasus terkonfirmasi. Data terbaru dari Kementerian Kesehatan DRC per Selasa lalu mencatat 10.060 kasus dengan 4.887 kematian. Angka ini menjadikan wabah kali ini sebagai yang tercepat pertumbuhannya sekaligus paling mematikan dalam sejarah negara tersebut.
Yang lebih mengkhawatirkan, sekitar 80 persen kasus baru muncul dari luar rantai penularan yang dipantau otoritas kesehatan. Africa CDC menegaskan bahwa minimal 95 persen kasus harus berasal dari kontak yang diketahui agar wabah bisa dinyatakan terkendali. Artinya, pelacakan kontak masih jauh dari kata berhasil.
Wabah yang dideklarasikan pada 15 Mei ini disebabkan oleh virus Bundibugyoāstrain Ebola langka yang belum memiliki vaksin maupun pengobatan resmi. Namun kabar baiknya, WHO baru saja mengumumkan dimulainya uji klinis perdana untuk vaksin strain ini pada Jumat lalu.
Di lapangan, kondisi tak kalah pelik. Sejumlah pusat perawatan kewalahan, sementara wilayah terpencil kekurangan obat-obatan dan tenaga medis. Kasus kini tersebar di 66 zona kesehatan dari 8 provinsiāmelonjak drastis dari hanya 3 zona di awal wabah. Setidaknya separuh dari korban meninggal tidak pernah sempat dirawat di fasilitas kesehatan. Banyak tim juga kesulitan meyakinkan keluarga agar menyerahkan pasien untuk dirawat dan jenazah untuk dimakamkan secara aman.
Dampak turunannya pun meluas. Imunisasi rutin anak terganggu, dan kematian ibu melonjak dua kali lipat di beberapa provinsi. Aksi mogok kerja tenaga medis akibat upah tertunda kerap terjadiāterbaru di Nia Nia, Provinsi Ituri, tim respons Ebola berhenti bekerja karena bonus belum dibayar sejak Agustus.
Yang paling memprihatinkan, petugas kesehatan kini menjadi sasaran serangan. Pada Sabtu lalu, seorang perawat tewas dan rekannya luka berat saat merespons kasus suspek Ebola di Bafwasende, Provinsi Tshopo. Sebelumnya, seorang politisi lokal tewas dipukuli setelah membela respons Ebola di radio. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menegaskan bahwa semua pihak yang melindungi masyarakat dari penyakit mematikan ini berhak bekerja dengan aman dan bermartabat.
Dengan jangkauan lintas batas yang lebih luas dari wabah Ebola mana pun sebelumnya, situasi ini menempatkan wabah Kongo sebagai yang terbesar kedua dan paling mematikan kedua dalam catatan sejarah globalāhanya di bawah epidemi Afrika Barat 2014-2016 yang mencatat 28.600 infeksi dan lebih dari 11.000 kematian.