Di tengah gema takbir dan semangat Ramadan yang penuh kedamaian, Tentara Israel justru menyapa publik dengan ucapan 'Ramadan Kareem'. Namun, pesan ini menuai sorotan tajam dan pertanyaan besar, sebab di saat bersamaan, laporan dari berbagai pihak justru mengungkap kondisi warga Palestina yang kian memprihatinkan akibat konflik berkelanjutan. Kontradiksi ini memicu perdebatan sengit tentang niat sebenarnya di balik pesan tersebut.
Pesan selamat Ramadan yang disebarkan melalui berbagai saluran komunikasi Tentara Israel itu, menurut banyak pengamat dan aktivis hak asasi manusia, terkesan hambar bahkan ironis. Pasalnya, bulan suci yang seharusnya membawa ketenangan dan ibadah itu justru diwarnai dengan eskalasi ketegangan, pembatasan akses, dan krisis kemanusiaan yang mendalam, terutama di Jalur Gaza. Ribuan warga sipil menghadapi kelaparan ekstrem dan minimnya akses bantuan, sementara fasilitas kesehatan lumpuh total.
Kondisi di Tepi Barat dan Yerusalem Timur juga tak kalah pelik. Pembatasan pergerakan, perluasan permukiman Israel yang terus masif, serta insiden kekerasan yang terus terjadi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga Palestina. Berbagai organisasi internasional, termasuk PBB, berulang kali menyuarakan keprihatinan atas dugaan pelanggaran hukum internasional dan hak asasi manusia yang menyebabkan penderitaan tak berkesudahan bagi masyarakat setempat.
Ucapan 'Ramadan Kareem' dari pihak yang dituding melakukan penindasan ini lantas dianggap sebagai upaya 'greenwashing' atau pemanis retorika yang jauh dari realita lapangan. Banyak pihak memandang bahwa pesan damai seharusnya diikuti dengan tindakan nyata untuk meredakan konflik dan menjamin hak-hak dasar warga Palestina. Realitas ini semakin menegaskan kompleksitas konflik Israel-Palestina yang tak hanya melibatkan perebutan wilayah, tetapi juga narasi dan persepsi yang saling bertolak belakang, bahkan di momen sakral seperti Ramadan.