Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan serius terkait penyebaran virus Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC). Wabah yang disebabkan oleh strain langka Bundibugyo ini kini telah merambah ke kamp-kamp pengungsian padat penduduk di timur laut DRC, menandai fase baru yang lebih berbahaya.
Kepala Epidemiologi WHO, Olivier le Polain, mengungkapkan bahwa kasus baru ditemukan hampir setiap hari di zona kesehatan baru. Data per Jumat lalu mencatat 676 kasus konfirmasi Ebola dengan 136 kematian di Provinsi Ituri, serta wilayah North Kivu dan South Kivu. Hanya 32 pasien yang dinyatakan sembuh.
Fakta paling mengkhawatirkan adalah ditemukannya kematian pertama di Kamp Pengungsi Kpanga yang padat. Dua kematian dilaporkan terjadi pada 31 Mei dan 1 Juni lalu. Kondisi kamp yang sempit dengan hunian beratus-ratus orang membuat virus berpotensi menyebar seperti bom waktu.
WHO mengakui kapasitas tempat isolasi masih jauh di bawah kebutuhan. Pelacakan kontak (contact tracing) juga berjalan lambat. Tidak seperti wabah Ebola sebelumnya, strain Bundibugyo ini belum memiliki vaksin atau pengobatan yang disetujui. Situasi diperparah oleh konflik berkepanjangan di DRC yang membuat pemerintah kehilangan kendali penuh atas wilayah karena ulah kelompok bersenjata.
Dampaknya bagi masyarakat global: risiko penyebaran lintas batas semakin nyata. Mobilitas penduduk yang tinggi dan minimnya infrastruktur kesehatan membuat wabah ini berpotensi menjadi krisis kemanusiaan skala besar jika tidak segera diatasi secara agresif.