Kabar terbaru dari kancah konflik Timur Tengah cukup membuat gelisah. Amerika Serikat kembali menuding Iran menyerang fasilitas sipil. Tak tanggung-tanggung, Presiden Donald Trump bahkan memamerkan rekaman yang menunjukkan penghancuran sebuah jembatan di Iran. Di tengah situasi yang kian memanas ini, Washington memang mengklaim pintu diplomasi tetap terbuka, namun bersamaan dengan itu, Trump juga kembali melontarkan ancaman untuk meluluhlantakkan infrastruktur sipil Iran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Tommy Pigott, dalam wawancaranya dengan Al Jazeera hari Kamis lalu menyebut, Presiden Trump sebenarnya sudah mengupayakan jalur dialog sebelum konflik pecah. Namun, Pigott menuduh Iran terus mengejar senjata nuklir. "Presiden selalu terbuka untuk diplomasi, tapi beliau juga jelas bahwa tujuan kami harus tercapai," tegas Pigott.
Tudingan AS ini menjadi menarik karena ada kontradiksi internal. Sebelumnya, mantan kepala intelijen Trump sendiri, Tulsi Gabbard, pernah menyatakan di hadapan para anggota parlemen bahwa "Iran tidak sedang membangun senjata nuklir." Gabbard bahkan mengatakan Iran belum melakukan upaya berarti untuk membangun kembali kapasitas pengayaan uranium setelah serangan AS yang menghantam tiga fasilitas nuklir utama Iran dalam operasi "Midnight Hammer" tahun lalu. Iran sendiri terus menepis tuduhan nuklir, bersikukuh pada haknya untuk memperkaya uranium, dan menolak bernegosiasi soal program misil serta dukungannya terhadap kelompok non-negara yang melawan Israel, seperti Hizbullah dan Hamas.
Perang antara AS dan Israel melawan Iran, yang secara resmi dimulai pada 28 Februari lalu, setelah perundingan di Jenewa sempat disebut 'positif' oleh mediator Oman, kini memasuki babak baru. Salah satu dampak paling krusial dari eskalasi ini adalah penutupan Selat Hormuz oleh Teheran. Sebagai jalur vital bagi pengiriman energi global, penutupan ini langsung memicu lonjakan harga minyak dunia. Bagi masyarakat, termasuk di Indonesia, ini bisa berarti kenaikan harga bahan bakar dan kebutuhan pokok lainnya. Konflik ini, dengan segala tudingan dan ancaman yang ada, tidak hanya mengancam stabilitas regional, tetapi juga berpotensi memberikan dampak ekonomi global yang signifikan dan langsung terasa di kantong kita.