Jakarta - Regulator keamanan online Australia, eSafety Commissioner, baru saja merilis laporan yang menohok industri game global. Hasilnya? Platform raksasa seperti Steam, Roblox, Fortnite, dan Minecraft dinilai masih punya celah besar dalam melindungi anak-anak dari bahaya dunia maya.
Komisioner eSafety, Julie Inman Grant, menyatakan bahwa anak-anak Australia berhak bermain online tanpa rasa takut. Sayangnya, sistem keamanan yang ada saat ini dinilai belum maksimal. Temuan paling mencolok ada pada Valve (pemilik Steam), yang menjadi satu-satunya platform yang tidak menggunakan teknologi standar industri untuk mendeteksi konten berbahaya.
Selain itu, sistem verifikasi usia di beberapa platform ini masih dianggap remeh. Minecraft dan Fortnite umumnya hanya mengandalkan pengakuan usia dari pengguna sendiri. Akibatnya, predator bisa dengan mudah mengaku sebagai orang dewasa untuk mengakses fitur komunikasi berisiko tinggi.
Laporan ini juga menyoroti kurangnya kolaborasi antar-platform dalam berbagi data tentang pelanggaran keamanan anak. Padahal, kerja sama ini krusial untuk mencegah penyebaran konten ekstremis dan eksploitasi seksual.
Analisis Dampak: Temuan ini menjadi alarm keras bagi para orang tua. Tanpa pengawasan ketat dan perbaikan sistem dari pihak pengembang, ruang bermain anak-anak bisa berubah menjadi ladang perburuan predator. Regulasi ketat seperti yang dilakukan Australia mungkin akan segera diadopsi negara lain, memaksa platform game untuk segera berbenah atau menghadapi sanksi hukum.