Jalur Gaza kembali diterpa derita tak berkesudahan. Badai musim dingin yang melanda wilayah itu sejak Senin hingga Selasa kemarin, menjadi badai pertama di bulan Ramadan, membuat tenda-tenda darurat para pengungsi terendam banjir parah. Ini menambah kepedihan warga yang sudah berjuang di tengah minimnya pasokan bantuan dan kehancuran akibat konflik berkepanjangan.
Unit pertahanan sipil Gaza menerima banyak panggilan darurat semalam, bergerak cepat membantu keluarga yang tendanya kebanjiran, terutama di kamp al-Mawasi di barat Khan Younis. Wilayah barat Kota Gaza, termasuk permukiman Remal dan area pelabuhan, juga tak luput dari terjangan badai, dengan video di media sosial menunjukkan tenda-tenda yang tergenang air dan warga yang mati-matian menyelamatkan diri.
Situasi ini memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah akut. Puluhan ribu warga Palestina kini tinggal di tenda-tenda darurat yang sangat tidak layak, rentan terhadap penyakit akibat air kotor dan risiko hipotermia. Sejak Desember lalu, serangkaian badai musim dingin telah merusak atau menyapu puluhan ribu tenda serta merobohkan bangunan-bangunan yang sudah rusak parah akibat serangan Israel sebelumnya, menyebabkan puluhan korban jiwa. Beberapa meninggal dunia karena kedinginan ekstrem di tenda-tenda mereka yang tipis.
Yang lebih memilukan, di tengah bencana alam ini, serangan Israel dilaporkan masih terus berlanjut. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 600 warga Palestina tewas dalam serangan Israel sejak 'gencatan senjata' yang dimediasi AS berlaku pada Oktober lalu. Bahkan, dua orang, termasuk seorang anak-anak, dilaporkan tewas di Beit Lahiya, Gaza utara, saat wilayah itu berjuang mengatasi dampak banjir. Jurnalis Al Jazeera, Hind Khoudary, dari Kota Gaza menegaskan, "Bukan hanya bantuan yang tidak masuk, tapi Israel juga terus melanggar 'gencatan senjata', terus membunuh warga Palestina."
Kepala Hak Asasi Manusia PBB, Volker Turk, menyebut situasi di Gaza saat ini sebagai "katastropik" atau bencana total. Sejak ofensif Israel dimulai pada Oktober 2023, lebih dari 72.000 warga Palestina tewas dan 171.000 lainnya luka-luka, mengubah Jalur Gaza menjadi lautan puing. Ribuan pasien yang membutuhkan perawatan medis mendesak di luar negeri juga terhalang blokade, dan banyak yang kini "tunawisma" karena rumah mereka telah hancur. Dengan Israel yang terus membatasi masuknya bantuan kemanusiaan krusial, termasuk tenda dan tempat tinggal sementara, dampak badai ini bukan lagi sekadar bencana alam, melainkan bagian integral dari krisis kemanusiaan yang sengaja diperparah.