Pemilu paruh waktu Amerika Serikat yang membawa gelombang kemenangan bagi Partai Demokrat memang menjadi angin segar bagi Ukraina. Namun, di balik euforia politik di Washington, realitas di medan perang Kyiv justru berbicara lain: mereka sudah lama belajar untuk tidak bergantung pada Amerika.
Seorang teknisi drone yang tengah dirawat di rumah sakit Kyiv, Kyrylo (37), mengaku tidak terlalu peduli dengan hasil pemilu AS. Baginya, pengalaman pahit bersama pemerintahan Donald Trump telah mengajarkan satu hal penting: kemandirian. "Trump sudah sering mengecewakan kami, menjual kami ke Rusia, tapi kami tetap berdiri dan masih menendang pantat Rusia," ujarnya tegas, seperti dikutip Al Jazeera.
Data menunjukkan perubahan drastis dalam aliran bantuan. Sejak invasi besar-besaran Rusia pada 2022 hingga akhir 2024, total bantuan militer dan finansial AS nyaris menyentuh 200 miliar dolar. Namun memasuki 2025, keran bantuan AS mengecil menjadi tetesan. Dari Oktober 2025 hingga Maret, Kyiv hanya menerima 8,2 miliar dolar untuk paket bantuan militer sisa pemerintahan Joe Biden. Meski begitu, Eropa kini mengambil alih beban terbesar dengan mengucurkan 83 miliar dolar pada 2025 saja, meskipun hampir sepertiga persenjataan tetap berasal dari perusahaan AS.
Kemenangan Demokrat di Kongres membawa harapan baru. Partai ini berjanji mengawasi ketat hubungan Trump dengan Rusia dan menyelidiki dugaan korupsi keluarga Trump, termasuk keterkaitan dengan oligark Rusia. Mereka siap mengeluarkan surat panggilan dan memaksa transparansi dokumen eksekutif terkait Ukraina mulai 3 Januari nanti. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyambut baik hal ini dan menegaskan pentingnya dukungan bipartisan.
Namun, jalan menuju dukungan penuh dari Kongres tidak mulus. Gelombang biru justru menggeser beberapa pendukung setia Ukraina dari kursi mereka, seperti Brian Fitzpatrick dari Pennsylvania yang merupakan co-chair Kaukus Ukraina di Kongres. Analis dari Penta think tank, Volodymyr Fesenko, menilai posisi Ukraina mungkin menguat, tetapi mereka tetap harus menjaga dukungan dari kedua partai. Sementara itu, di lapangan, para tentara seperti Kyrylo justru melihat peluang baru: dunia kini ingin membeli drone buatan Ukraina. Kemandirian industri pertahanan menjadi kunci bertahan hidup di tengah ketidakpastian politik global.