Sanaa, Yaman — Pemerintah Yaman yang diakui internasional baru saja meluncurkan operasi militer besar-besaran bertajuk Dawn of Yemen untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi. Namun, siapa yang sebenarnya bisa menentukan menang atau kalah dalam pertempuran ini? Jawabannya: suku-suku lokal.
Selama bertahun-tahun, suku-suku yang sebenarnya memusuhi Houthi memilih bungkam dan tidak berani angkat senjata. Mereka trauma oleh kekuatan militer Houthi dan kegagalan pemberontakan sebelumnya. Kini, mereka sedang menunggu bukti nyata: apakah pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi ini benar-benar mampu mencetak kemajuan di garis depan, atau hanya gertakan sesaat.
Garis depan baru telah dibuka di pesisir Laut Merah, Marib, dan al-Jawf. Serangan udara dilaporkan telah melukai pasukan Houthi. Namun, tantangan terbesar tetap ada: merebut benteng Houthi di Sanaa, Saada, dan Amran yang sudah dikuasai sejak 2014.
Pada Senin lalu, sebuah sinyal penting muncul. Di Marib, ratusan syekh dan pejuang dari berbagai suku—seperti Jadan dan Nihm—menggelar pertemuan besar. Mereka mendeklarasikan mobilisasi umum untuk mendukung pemerintah dan menggulingkan "kudeta Houthi".
Menurut peneliti dari Sana'a Center for Strategic Studies, Adel Dashela, dukungan suku ini bisa menjadi penentu. Jika mobilisasi ini berlanjut, suku-suku bisa membantu tentara pemerintah menembus jantung kekuasaan Houthi. Namun, tanpa bukti kemenangan yang konsisten, suku-suku ini cenderung menunggu di pagar dan melihat ke mana angin berhembus.
Analisis Dampak: Bagi masyarakat Yaman, keterlibatan suku berarti perang bisa berubah menjadi konflik horizontal yang lebih berdarah. Di sisi lain, jika suku-suku bergabung, pemerintah memiliki sumber daya manusia yang besar. Namun, risiko perpecahan tetap tinggi karena loyalitas suku lebih condong ke kepentingan lokal ketimbang nasional. Perang ini bukan hanya soal senjata, tapi soal kepercayaan.