Pertemuan para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara-negara G20 resmi digelar di Bangkok, Thailand, Kamis ini. Agenda utama pertemuan tersebut adalah membahas situasi ekonomi global yang sedang tidak menentu akibat dampak perang antara AS-Israel dan Iran. Pertemuan ini berjalan bersamaan dengan agenda tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia yang berlangsung pada 12 hingga 18 Oktober di ibu kota Thailand tersebut.
Sebagai informasi, G20 merupakan forum kerja sama ekonomi yang menampung 19 negara dengan perekonomian terbesar di dunia, ditambah Uni Eropa dan Uni Afrika. Negara-negara anggota G20 ini menyumbang sekitar 85 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) global dan tiga perempat perdagangan dunia. Forum ini awalnya dibentuk pada 1999 untuk menangani krisis keuangan Asia, namun kini perannya telah meluas menjadi forum strategis bagi para pemimpin negara.
Dalam pertemuan kali ini, isu utama yang diprediksi akan mendominasi pembicaraan adalah dampak ekonomi dari konflik di Timur Tengah. Serangan yang terjadi di kawasan tersebut telah mengganggu aktivitas ekonomi regional. Lebih parahnya lagi, gangguan pengiriman di Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga energi secara global. Harga minyak mentah tercatat bertahan di atas 100 dolar AS per barel selama delapan bulan terakhir, kondisi ini tentu memberikan tekanan berat pada anggaran pemerintah berbagai negara.
Menariknya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dikabarkan tidak hadir dalam pertemuan penting ini. Pihak AS beralasan ada urusan domestik yang harus diselesaikan. Posisi AS sebagai pemegang kursi G20 tahun ini akan diwakili oleh Deputi Menteri Francis Brooke dan Wakil Menteri Urusan Internasional Erin Browne. Ketidakhadiran tokoh ekonomi utama AS ini menjadi sorotan tersendiri di tengah ketidakpastian global.
Analisis Dampak: Bagi masyarakat luas, hasil pertemuan ini akan sangat menentukan stabilitas harga kebutuhan pokok dan energi di dalam negeri. Jika G20 gagal merumuskan solusi konkret terkait krisis energi akibat perang, harga BBM dan tarif listrik berpotensi terus melambung. Selain itu, ketidakpastian ekonomi global bisa berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya biaya hidup. Pertemuan di Bangkok ini juga menjadi ajang pemanasan sebelum KTT para pemimpin G20 di Miami, Florida, pada 14-15 Desember mendatang, di mana keputusan-keputusan besar akan diambil.