HARGA MINYAK DUNIA AMBLAS, ISYARAT PERANG IRAN USAI? - Berita Dunia
← Kembali

HARGA MINYAK DUNIA AMBLAS, ISYARAT PERANG IRAN USAI?

Foto Berita

Jakarta, [Tanggal Hari Ini] – Kabar gembira mulai berhembus di pasar energi global. Harga minyak mentah jenis Brent tercatat jatuh ke level terendah sejak awal Maret 2025, atau hanya beberapa hari setelah perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran dimulai.

Pada perdagangan Rabu waktu setempat, harga minyak Brent untuk pengiriman Agustus ambles mendekati 1 persen. Ini merupakan kelanjutan dari penurunan drastis sekitar 5 persen dalam dua hari sebelumnya. Kini, harga minyak mentah acuan dunia itu berada di kisaran 78,24 dolar AS per barel, titik terendah dalam lebih dari empat bulan terakhir.

Penurunan ini terjadi di tengah optimisme pasar yang tinggi menjelang penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara AS dan Iran di Jenewa, Swiss, pada hari Jumat mendatang. Kesepakatan ini diyakini akan menjadi kerangka kerja untuk mengakhiri konflik berkepanjangan yang telah mengguncang pasokan energi dunia.

Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, menilai penurunan harga yang tajam ini sebagai 'vote of confidence' dari pasar. "Dalam empat sesi perdagangan terakhir, Brent telah turun 17 dolar per barel. Ini adalah sinyal kepercayaan yang jelas bahwa yang terburuk, setidaknya dalam hal gangguan pasokan, sudah berlalu," ujarnya.

Meski demikian, Founder Vanda Insights, Vandana Hari, mengingatkan bahwa penurunan ini sepenuhnya didorong oleh sentimen. Pasar, katanya, terlalu optimis dengan skenario terbaik, namun lupa bahwa masih banyak potensi hambatan, mulai dari masalah logistik hingga ketegangan geopolitik baru.

Salah satu poin krusial dalam MoU tersebut adalah pembukaan kembali Selat Hormuz. Selat strategis yang selama perang nyaris ditutup total oleh Iran dengan ancaman rudal, drone, dan ranjau laut ini, diperkirakan menyumbat pasokan minyak global hingga 14 juta barel per hari. Jika selat ini benar-benar terbuka, rantai pasok energi global akan kembali bernapas lega.

Namun, Sekretaris Jenderal Federasi Pekerja Transportasi Internasional (ITF), Stephen Cotton, mengingatkan bahwa proses normalisasi tidak akan instan. Lebih dari 500 kapal masih mengantre untuk keluar dari Teluk, dan proses pembersihan ranjau laut diperkirakan memakan waktu berminggu-minggu. "Penandatanganan ini hanyalah awal dari sebuah proses panjang menuju normalisasi," tegasnya.

Dampak bagi Indonesia, penurunan harga minyak ini bisa menjadi angin segar bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) karena mengurangi beban subsidi energi. Namun, masyarakat tetap perlu waspada karena harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri tidak serta-merta mengikuti fluktuasi harian pasar global karena adanya kebijakan subsidi dan harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook