Ketegangan di Timur Tengah kian memuncak! Negara-negara Teluk kini menjadi sasaran empuk serangan Iran, seiring dengan eskalasi perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran. Terbaru, Arab Saudi berhasil mencegat gelombang drone Iran, namun Kuwait tak seberuntung itu. Kilang minyak Mina al-Ahmadi milik Kuwait Petroleum Corporation diserang drone dini hari, memaksa beberapa unit operasionalnya dihentikan sementara.
Situasi semakin rumit setelah Israel melancarkan serangan ke ladang gas vital Iran, South Pars. Tak butuh waktu lama, Iran membalas dengan menghantam fasilitas gas utama di pabrik Ras Laffan, Qatar. Ini menyoroti posisi Qatar yang kian terjepit di tengah konflik.
Qatar sendiri merupakan rumah bagi Pangkalan Udara Al Udeid, markas militer AS terbesar di kawasan yang juga menjadi pusat komando operasi militer Paman Sam di Timur Tengah. Negara ini juga mitra strategis AS dalam pembelian sistem persenjataan canggih seperti rudal Patriot dan NASAMS.
Melihat situasi ini, Presiden AS Donald Trump tegas menyatakan dukungan penuhnya untuk Qatar. Ia bahkan mengancam akan 'meledakkan secara besar-besaran' seluruh ladang gas South Pars milik Iran jika Teheran kembali 'secara tidak bijaksana' menyerang Qatar. Pernyataan ini menunjukkan bahwa AS tidak akan tinggal diam jika kepentingan sekutunya terancam, khususnya Qatar yang vital bagi keberadaan militernya di kawasan.
Para ahli menilai, meski negara-negara Teluk punya kemitraan militer, bantuan konkret dari sekutu mereka masih dipertanyakan di tengah peningkatan serangan Iran ini. Eskalasi konflik yang menargetkan fasilitas energi strategis berpotensi mengguncang pasar energi global, memicu kenaikan harga minyak dan gas, serta memperburuk inflasi. Bagi masyarakat di negara-negara Teluk, ancaman serangan yang kian nyata ini tentu memicu kekhawatiran serius akan keamanan dan stabilitas wilayah mereka.