Serangan udara yang dilancarkan kelompok Houthi terhadap Bandara Internasional Riyadh menjadi sorotan dunia internasional. Dalam insiden yang terjadi pada Sabtu lalu, otoritas penerbangan sipil Arab Saudi melaporkan bahwa serangan tersebut menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai 300 orang lainnya. Ini merupakan serangan ketiga kalinya dalam sepekan dan menjadi yang paling mematikan di Kerajaan Saudi dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Para korban tewas dalam serangan itu tidak hanya warga negara Saudi, tetapi juga warga asing dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Bangladesh, Yordania, Palestina, Suriah, Sudan, dan Mesir. Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya intensitas perang di Yaman, di mana kelompok Houthi yang didukung Iran terus berupaya merebut kendali negara dari pemerintah yang diakui secara internasional.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dengan tegas mengutuk serangan tersebut sebagai tindakan yang "mengerikan". Ia menyatakan akan segera berbicara dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk membahas situasi ini. Yang paling mengejutkan, Trump mengungkapkan bahwa Amerika Serikat sedang mengevaluasi kemungkinan untuk bergabung dalam kampanye militer melawan Houthi. "Kami mungkin akan bergabung. Kami akan melihat situasinya. Kami baru tahu tentang serangan ini, jadi kami akan segera mengambil keputusan," ujarnya.
Dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, Utusan Khusus untuk Yaman, Hans Grundberg, menyebut serangan terhadap bandara sipil ini sebagai "eskalasi yang serius". Ia memperingatkan bahwa tindakan semacam ini tidak hanya mengancam keamanan regional, tetapi juga memperumit upaya perdamaian yang sudah rapuh di Yaman.
Dukungan untuk Arab Saudi juga mengalir dari berbagai negara. Mesir mengecam keras serangan tersebut sebagai "pelanggaran mencolok" terhadap hukum internasional. Qatar menyatakan solidaritas penuh dan mendukung "segala tindakan sah" yang diambil Saudi untuk melindungi kedaulatannya. Palestina juga menyatakan dukungan penuh, sementara Kedutaan Besar Jepang di Saudi menegaskan bahwa serangan terhadap warga sipil "tidak dapat ditoleransi".
Analisis Dampak: Jika Amerika Serikat benar-benar terjun ke konflik ini, bukan tidak mungkin perang di Yaman akan berubah menjadi konfrontasi langsung antara AS dan Iran (yang mendukung Houthi). Bagi masyarakat global, eskalasi ini berpotensi mengganggu stabilitas harga minyak dunia dan keamanan jalur pelayaran di Selat Bab el-Mandeb. Selain itu, serangan terhadap bandara internasional menunjukkan bahwa kelompok Houthi kini memiliki kemampuan teknologi drone atau rudal yang semakin canggih, yang bisa mengancam penerbangan sipil di kawasan Timur Tengah.