Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan retorika anti-Islam dan teori konspirasi dalam dua kampanye terakhirnya di Iowa dan Kansas, hanya beberapa hari sebelum pemilu sela yang menentukan kendali Kongres. Dalam pidatonya, Trump berulang kali menyebut Abdul El-Sayed, kandidat Senat dari Partai Demokrat asal Michigan, sebagai 'jihadis' dan bahkan berkelakar bahwa Senat perlu memasang detektor logam khusus untuk memeriksanya jika terpilih.
Trump juga mengulang klaim tanpa bukti bahwa El-Sayed adalah anggota Ikhwanul Muslimin, organisasi yang oleh AS dianggap sebagai teroris internasional. Selain itu, ia menyerang Anggota Kongres Ilhan Omar dari Minnesota dengan tuduhan tak berdasar soal pernikahan dengan saudara kandungnya.
Kedua kampanye yang sempat dibatalkan ini menjadi ajang terakhir Trump sebelum pemilu 3 November. Ia mendesak pendukungnya untuk memilih dengan mengatakan 'anggap saja saya ada di surat suara'. Pidatonya beberapa kali terganggu oleh pengunjuk rasa.
Analisis: Serangan bernuansa Islamofobia ini berpotensi memperdalam polarisasi politik di AS, terutama di komunitas Muslim yang selama ini merasa terpinggirkan. Retorika semacam ini juga bisa memicu kekhawatiran internasional soal naiknya sentimen anti-Islam di negara adidaya tersebut. Sementara itu, sejumlah jajak pendapat menunjukkan Demokrat berpeluang merebut kursi di Iowa dan Kansas, dua negara bagian yang selama ini dikuasai Republik.