IRAN GANTI REZIM? WASPADA KEKACAUAN, BUKAN KEDAMAIAN! - Berita Dunia
← Kembali

IRAN GANTI REZIM? WASPADA KEKACAUAN, BUKAN KEDAMAIAN!

Foto Berita

Wacana intervensi asing di Iran kian santer, diperkuat oleh gelombang protes dan dukungan media Barat. Namun, sebuah pandangan kritis dari kalangan akademisi menggarisbawahi realitas pahit: pergantian rezim paksa di Iran justru berpotensi memicu kekacauan berkepanjangan, bukan stabilitas yang diidamkan. Pengalaman Afghanistan, Irak, dan Libya menjadi cermin jelas betapa intervensi eksternal kerap berujung pada kehancuran dan anarki yang sulit diatasi.

Para pendukung intervensi, terutama dari Amerika Serikat dan Israel, sempat menyuarakan optimisme. Mereka berharap tindakan seperti seruan "bangkit" kepada rakyat Iran oleh Presiden AS Donald Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu, serta bahkan pembunuhan pejabat tinggi Iran seperti Ayatollah Ali Khamenei, akan memicu keruntuhan rezim yang cepat dan transisi damai. Narasi ini diperkuat oleh liputan luas media Barat terhadap oposisi Iran menyusul penumpasan brutal protes Januari lalu.

Namun, Profesor Ekonomi Timur Tengah dari Philipps-Universität Marburg, Jerman, mengingatkan bahwa asumsi pergantian figur sentral akan serta-merta melahirkan stabilitas adalah ilusi belaka. Realitas di Timur Tengah justru menunjukkan sebaliknya. Ambil contoh Afghanistan pasca-invasi AS tahun 2001, yang memicu dua dekade konflik dan kekerasan terhadap warga sipil, bahkan kembalinya rezim Taliban di 2021 tanpa stabilitas yang hakiki.

Demikian pula Irak, yang sejak invasi AS tahun 2003 terperosok dalam berbagai pemberontakan dan perang saudara, gagal kembali ke kondisi stabil pra-invasi meski sudah berupaya demokratisasi. Libya bahkan lebih parah. Setelah intervensi NATO tahun 2011, negara ini kolaps total, terpecah menjadi dua pusat pemerintahan tanpa tanda-tanda pemulihan. Ketiga negara ini menjadi bukti nyata bahwa intervensi asing hanya meninggalkan kerapuhan dan gejolak jangka panjang.

Kondisi Iran sendiri memiliki perbedaan signifikan dibanding Afghanistan, Irak, maupun Libya. Dalam konteks Islam Syiah yang dianut mayoritas rakyat Iran, kematian seorang pemimpin seperti Khamenei bisa jadi justru diinterpretasikan sebagai pemenuhan takdir martir, bukan pemicu keruntuhan negara. Analisis ini menyoroti bahwa dampak intervensi di Iran kemungkinan besar akan jauh dari harapan para pendukungnya, berpotensi menciptakan krisis kemanusiaan yang parah dan ketidakstabilan regional yang tak terduga. Masyarakat Iran mungkin akan menghadapi bukan era baru kebebasan, melainkan babak baru kekerasan dan penderitaan yang tak berujung.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook