Jakarta, CNN Indonesia — Pemilihan sela (midterm) Amerika Serikat diprediksi bakal jadi pukulan bagi Partai Republik yang sedang berkuasa. Berbagai jajak pendapat menunjukkan Partai Demokrat unggul rata-rata delapan poin di DPR dan Senat. Pertanyaannya, kalau Demokrat menang, apakah itu bakal mengguncang lanskap politik Eropa?
Para analis dan pengamat yang diwawancarai Al Jazeera menilai dampaknya tidak akanFundamental. Meski begitu, ada dua efek samping yang perlu diwaspadai. Pertama, kemenangan Demokrat berpotensi memicu rasa 'terlalu percaya diri' (complacency) di kalangan warga Eropa terhadap gerakan sayap kanan jauh di negara mereka sendiri. Kedua, hasil ini bisa mendorong Presiden AS Donald Trump untuk meningkatkan tekanan terhadap Ukraina agar mau berdamai dengan Rusia—sesuatu yang sebenarnya tidak diinginkan Kyiv.
Catherine Fieschi, peneliti dari Carnegie Europe yang fokus pada politik sayap kanan Eropa, melihat kemenangan Demokrat akan dibaca sebagai sinyal bahwa 'demokrasi bisa bangkit kembali'. Narasi ini dikhawatirkan membuat publik Eropa menganggap remeh ancaman kelompok ekstremis. "Ini memunculkan anggapan bahwa hal-hal seperti ini tidak berarti datangnya rezim fasis," ujarnya dari Paris. Ia bahkan membayangkan munculnya diskusi di Eropa soal apakah ketakutan terhadap Marine Le Pen (politisi sayap kanan Prancis) masih relevan atau tidak.
Saat ini, Le Pen memang sedang memimpin survei untuk pemilihan presiden Prancis dengan elektabilitas sekitar 34 persen. Fenomena 'terlena' ini sebenarnya pernah terjadi sebelumnya. Pada Juni 2025, lembaga think tank ECFR melakukan survei pasca-enam bulan pertama Trump menjabat. Hasilnya, mayoritas warga Eropa Barat menilai sistem politik AS rusak, sementara mayoritas di Eropa Timur menilai sebaliknya.
Di sisi lain, Menteri Migrasi Yunani Thanos Plevris mengingatkan agar tidak mengaitkan semua perubahan di Eropa dengan AS. Menurutnya, opini publik Eropa sudah mengeras terhadap isu suaka dan migrasi ekonomi secara independen. Namun, ia mengakui AS memberikan 'perubahan nada' yang signifikan. "AS mengubah pendekatan dari induksi dan integrasi menjadi pencegahan, perlindungan perbatasan, dan deportasi militer," kata Plevris. Ia menilai poros perubahan gaya AS ini turut mempengaruhi kebijakan di Eropa, termasuk Jerman yang mulai beralih dari kebijakan 'pintu terbuka' menjadi lebih terkontrol.
Analisis Singkat: Kemenangan Demokrat di AS memang tidak serta-merta mengubah kebijakan Eropa. Namun, secara psikologis, hal ini bisa menjadi bumerang. Jika Eropa merasa 'aman' karena melihat AS kembali ke jalur demokrasi normal, kewaspadaan terhadap gerakan sayap kanan di dalam negeri sendiri bisa menurun. Selain itu, ketegangan AS-Ukraina-Rusia berpotensi memanas jika Trump merasa perlu menunjukkan taringnya pasca-kekalahan di parlemen.