Badan PBB untuk pengungsi Palestina, UNRWA, kini berada di tengah badai krisis yang mengancam eksistensinya dan jutaan nyawa di Gaza. Sejak Oktober 2023, lembaga kemanusiaan vital ini menghadapi serangkaian serangan. Mulai dari tuduhan miring pemerintah Israel, pemotongan dana signifikan oleh Amerika Serikat, hingga gugatan hukum yang meragukan netralitasnya. Ironisnya, di tengah tekanan ini, lebih dari 380 staf UNRWA di Gaza tewas akibat operasi militer Israel.
Kondisi semakin parah setelah Israel secara terang-terangan melarang UNRWA beroperasi di wilayah tersebut. Komisaris Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini, bahkan menyebut larangan ini sebagai 'titik balik' berbahaya bagi hukum internasional dan tatanan global. Ini bukan sekadar masalah administratif, tapi pukulan telak bagi jutaan warga Palestina di Gaza yang sangat bergantung pada UNRWA untuk kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, kesehatan, dan pendidikan.
Selama ini, UNRWA adalah tulang punggung penyaluran bantuan kemanusiaan terbesar di wilayah konflik tersebut. Jika UNRWA lumpuh, krisis kemanusiaan di Gaza, yang sudah sangat parah, berpotensi memburuk drastis hingga ke level bencana yang tak terbayangkan. Akibatnya, masyarakat internasional dihadapkan pada tantangan serius untuk mencari alternatif, atau menyaksikan keruntuhan sistem bantuan kemanusiaan di tengah krisis kemanusiaan terbesar abad ini.