Pusat Kota Manchester mendadak memanas akhir pekan lalu. Ratusan demonstran sayap kanan yang tergabung dalam kelompok Britain First turun ke jalan menyuarakan sentimen anti-imigran dan anti-Islam. Aksi ini sontak memicu reaksi balik: massa anti-fasis dan anti-rasis yang jumlahnya jauh lebih besar sudah menanti, siap menentang seruan diskriminatif tersebut. Ketegangan pun tak terhindarkan.
Dengan bendera Union Jack berkibar dan seruan "send them back" menggema, massa Britain First yang di antaranya terlihat terpengaruh alkohol, melancarkan orasi menentang imigrasi dan mengkritik Perdana Menteri Keir Starmer. Partai politik sayap kanan ini dikenal vokal menuntut deportasi massal serta pengusiran migran dan Muslim dari Inggris.
Namun, di sudut jalan yang tak jauh, kerumunan yang jauh lebih besar berkumpul. Mereka adalah para kontra-demonstran anti-fasis, membawa spanduk anti-rasis dan beragam bendera, termasuk bendera Palestina.
Salah satu dari mereka adalah Ruby, seorang mahasiswi 20 tahun dari London Selatan. Ia rela menempuh perjalanan lima jam demi bergabung dalam aksi penolakan ini. Bagi Ruby, ini adalah panggilan hati. Kakek neneknya adalah bagian dari generasi Windrush, imigran Karibia yang diundang ke Inggris antara 1948-1971. Meskipun telah banyak berkontribusi, kini mereka merasa semakin tidak diterima. "Kakek nenek saya bilang, mereka menyaksikan kembali tingkat rasisme yang mereka alami di tahun 1950-an," ujarnya. Sentimen serupa juga diungkap Llowelyn (16), yang ayahnya berdarah British Guyana, mengalami pelecehan rasial lebih sering dalam beberapa tahun terakhir.
Ketegangan sudah terasa bahkan sebelum kedua kelompok bergerak. Agitator sayap kanan sempat melakukan siaran langsung saat mencoba memasuki area kontra-demonstran. Gesekan fisik dan verbal pun tak terhindarkan di tengah upaya keras polisi untuk mengendalikan situasi. "Mereka datang ke sini untuk bikin rusuh dan cari duit dari online, tapi saya datang untuk melindungi kaum kiri. Orang-orang ini mencoba mengintimidasi minoritas karena mereka pikir ras mereka paling unggul," kata John, seorang kontra-demonstran dari Wales.
Saat pawai Britain First yang dipimpin Paul Golding, aktivis sayap kanan yang pernah dipenjara karena pelecehan bernuansa agama, bertemu dengan kelompok kontra-demonstran, suasana perayaan mereka langsung berubah agresif. Teriakan "sampah sayap kiri" dilontarkan, bahkan insiden pendorongan bendera dan upaya penyerangan terjadi, memaksa polisi anti huru-hara turun tangan untuk mengamankan beberapa individu.
Insiden ini bukan hanya sekadar bentrokan fisik di jalanan Manchester. Ini mencerminkan polarisasi politik yang kian mendalam di Inggris dan banyak negara Barat, di mana isu imigrasi dan identitas menjadi pemicu utama perpecahan sosial. Kisah pribadi seperti Ruby dan Llowelyn menjadi pengingat pahit bahwa sentimen rasisme yang dikira telah usai, kini kembali menguat, mengancam kohesi masyarakat multikultural yang telah terbangun puluhan tahun. Masyarakat kini dihadapkan pada pertanyaan serius: Seberapa jauh Inggris akan terpecah oleh isu-isu sensitif ini? Dan bagaimana pemerintah akan merespons meningkatnya ketegangan sosial yang terancam meluas?