Raja Charles III memulai tur sembilan harinya di Karibia dengan mengakui adanya 'penderitaan besar di masa lalu' terkait perbudakan. Dalam kunjungan pertamanya sebagai raja ke wilayah tersebut, ia menyampaikan hal ini di hadapan para pemuda di Bahama, Selasa (22/3). Ia menegaskan bahwa budaya negara tersebut 'lahir dari kegelapan' dan sudah sepatutnya mengakui ketidakadilan historis yang terjadi.
Kunjungan ini menjadi sorotan karena bertepatan dengan meningkatnya seruan dari negara-negara Karibia agar Inggris meminta maaf dan membayar reparasi atas perannya dalam perdagangan budak. Sebelumnya, Istana Buckingham menyatakan Raja tidak akan menghindar dari isu 'warisan kolonial', namun sesuai posisi pemerintah Inggris, ia tidak akan menyampaikan permintaan maaf resmi atau menawarkan kompensasi.
Saat tiba, Raja Charles disambut Gubernur Jenderal Dame Cynthia Pratt dan Perdana Menteri Philip Davis. Di luar acara, sekitar selusin demonstran menggelar aksi protes. Mereka menuntut Inggris membayar utang masa lalu dan mengembalikan artefak yang dirampas, dengan suara lantang meneriakkan 'bayar apa yang kau utang'. Salah satu pengunjuk rasa menegaskan bahwa Mahkota masih memiliki pengaruh besar, dan jika tidak ada rasa hormat berupa permintaan maaf, negara-negara Karibia bisa beralih menjadi republik dan meninggalkan Inggris.
Dalam pidatonya, Raja Charles juga menyinggung komitmennya selama 50 tahun terhadap perubahan iklim. Ia menyoroti tantangan yang dihadapi negara-negara pulau kecil dan menyerukan kaum muda untuk mengambil peran dalam menjaga bumi. Tur ini akan berakhir pada pertemuan Kepala Pemerintahan Persemakmuran (CHOGM), di mana para pemimpin dipastikan akan membahas warisan perbudakan di kawasan tersebut.