Jakarta, [Tanggal Hari Ini] – Ketegangan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan media arus utama kian memuncak. Dalam sepekan terakhir, Trump secara terbuka walk out dari wawancara dengan NBC dan berspekulasi soal perubahan kepemilikan di CNN yang bisa mengubah pemberitaan stasiun televisi tersebut.
Tak hanya itu, krisis internal juga melanda CBS. Program unggulan 60 Minutes mengalami gejolak hebat. Hal ini menjadi alarm keras bahwa jurnalis di AS kini terjepit di antara tekanan politik Gedung Putih dan tekanan bisnis dari pemilik media yang merupakan miliarder.
Di sisi lain, kekerasan berbasis daring terus meluas. Sebuah video sadis penusukan dari Irlandia Utara yang viral di media sosial berhasil memicu gelombang protes anti-imigran. Kelompok sayap kanan jauh memanfaatkan konten tersebut untuk menggalang massa, membuktikan bahwa algoritma media sosial masih menjadi senjata ampuh untuk memecah belah masyarakat.
Situasi paling mengkhawatirkan terjadi di Gaza. Meski isu ini sudah jarang menghiasi headline global, pembunuhan terhadap jurnalis terus berlangsung. Lebih dari 260 pekerja media tewas sejak konflik terbaru pecah. Mereka yang tersisa harus bekerja di bawah ancaman kematian dan pengungsian setiap hari, sebagaimana dilaporkan oleh jurnalis Sharif Abdel Kouddous dari Drop Site News.
Analisis: Fenomena ini menunjukkan perang melawan kebenaran (truth) tidak hanya terjadi di medan perang fisik, tetapi juga di ruang redaksi. Ketika pemilik media lebih mementingkan kepentingan politik atau keuntungan bisnis, independensi jurnalistik menjadi taruhannya. Masyarakat AS dan global harus waspada: jika pers dibungkam atau dikendalikan, maka demokrasi kehilangan salah satu pilarnya.