Gelombang serangan udara Israel kembali menghantam Lebanon Selatan, secara terang-terangan melanggar perjanjian gencatan senjata yang seharusnya berlaku sejak November 2024 dengan Hizbullah. Video yang beredar memperlihatkan serangan gencar Israel yang membombardir berbagai wilayah di sana.
Pihak Israel berdalih bahwa serangan hampir setiap hari ini merupakan upaya menargetkan anggota atau infrastruktur kelompok Hizbullah. Namun, data dari pejabat Lebanon mengungkapkan gambaran yang jauh lebih suram: sudah ada lebih dari 10.000 pelanggaran gencatan senjata yang tercatat, yang ironisnya telah merenggut nyawa sedikitnya 330 orang.
Situasi ini tidak hanya memperparah ketegangan di perbatasan, namun juga menimbulkan kekhawatiran serius akan eskalasi konflik yang lebih luas di seluruh kawasan Timur Tengah. Gencatan senjata yang seharusnya membawa perdamaian kini seolah tak berarti di lapangan, dengan korban sipil terus berjatuhan di tengah kehancuran.