Kabar terbaru dari medan perang Ukraina menyebutkan bahwa Rusia praktis tidak mendapatkan keuntungan wilayah bersih sepanjang tahun ini. Pernyataan ini muncul menjelang rencana pertemuan trilateral antara Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, dengan tegas menyatakan bahwa pasukannya telah membebaskan lebih banyak wilayah sejak awal musim gugur dibandingkan dengan apa yang berhasil direbut Rusia.
Klaim ini diperkuat oleh data dari Institute for the Study of War (ISW), sebuah lembaga pemikir asal Washington. ISW mencatat bahwa sejak 1 September, Ukraina berhasil mendapatkan keuntungan bersih sekitar 241 kilometer persegi. Angka ini secara efektif menghapus semua keuntungan wilayah yang sempat diraih Rusia di awal tahun. Juru bicara Staf Umum Ukraina juga membantah klaim Rusia yang menyebut telah merebut 1.800 kilometer persegi wilayah Ukraina.
Di balik keberhasilan ini, ada kisah menarik dari Operasi Vivaldi. Operasi ini berhasil menggagalkan manuver penjepitan Rusia yang berupaya merebut sisa wilayah Donetsk. Jenderal Andriy Biletskyi, yang memimpin operasi tersebut, melaporkan bahwa pasukannya berhasil menghancurkan jembatan darat Rusia di tepi barat Sungai Zherebets dan menyeberang ke tepi timur. Langkah ini berhasil memperpendek garis depan dan memusatkan kekuatan artileri serta drone, sehingga pertahanan menjadi lebih stabil.
Dampaknya bagi Rusia sangat signifikan. Mereka kini menghadapi pilihan sulit untuk melakukan serangan frontal ke 'sabuk benteng' di kota-kota yang dijaga ketat seperti Kramatorsk, Sloviansk, dan Druzhivka. Meski demikian, Rusia dilaporkan merespons kekalahan ini dengan meningkatkan agresivitas serangan terhadap infrastruktur energi dan warga sipil. Pada 22 Oktober, Rusia dilaporkan meluncurkan tiga rudal balistik dengan hulu ledak klaster ke Kyiv, yang menunjukkan eskalasi serangan terhadap area permukiman.