Uganda kembali menjadi sorotan dunia. Jelang pemilihan umum, akses internet di negara Afrika Timur itu mendadak lumpuh total. Ini bukan kali pertama terjadi dan memicu kekhawatiran serius di kalangan aktivis serta masyarakat internasional.
Pemerintah Uganda secara sengaja memutus layanan internet di seluruh negeri sesaat sebelum hari pemungutan suara. Kebijakan ini tentu saja langsung menyulitkan jutaan warga untuk saling terhubung, bertukar informasi, bahkan mengakses berita-berita penting terkait pemilu.
Agather Atuhaire, seorang aktivis terkemuka asal Uganda, mengungkapkan keprihatinannya yang mendalam. Menurutnya, tindakan pemblokiran akses internet seperti ini sudah menjadi 'tradisi' yang berulang di setiap siklus pemilihan umum. Ia menjelaskan bahwa setiap kali pemilu tiba, upaya untuk tetap terhubung dan berkomunikasi menjadi semakin sulit dan penuh tantangan bagi warga Uganda.
Fenomena 'pemadaman internet menjelang pemilu' ini menimbulkan pertanyaan besar. Banyak pihak menduga langkah ini adalah taktik pemerintah untuk mengontrol arus informasi, mencegah disinformasi, atau bahkan membatasi mobilisasi politik yang tidak diinginkan selama periode krusial pemilihan umum.